PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Bahwa menyangkut jejaring sosial khususnya facebook dengan akun "Sinar Ngawi" hanya sebagai tempat Sharing Link Berita saja. Bila ada akun FB dengan kemiripan nama dan atau beberapa ada history foto,catatan, yang ternyata untuk menawarkan jual beli "ONLINE" maka bukan tanggungjawab kami.----TTD Admin/ceo media SN ----
Custom Search

Kamis, 19 Mei 2011

Home > > SEJARAH DESA TEGUHAN PARON NGAWI JAWA TIMUR (Bag-3)

SEJARAH DESA TEGUHAN PARON NGAWI JAWA TIMUR (Bag-3)

(SINAR NGAWI | portal pemberitaan Ngawi) Berita Kabar Warta info informasi terbaru seputar hari ini tabloid orbit tribun Gambar Foto Nama Ketua kepala anggota warga sekitar ngawi cuaca hari ini(Sejarah Desa Teguhan Paron Ngawi Jawa Timur (Bag-3) secara History Desa Teguhan masuk dalam kecamatan Paron kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur dengan kode wilayah Desa 35.21.10.2009 memang memiliki perjalanan cerita yang cukup panjang. meski ada pro dan kontra, legenda terjadinya wilayah Pedesaan Teguhan tetap kami hadirkan untuk meperkaya kasanah perbendaharaan pengetahuan.

Kisah dilanjutkan dengan perjalanan berbalik arah ke utara dan tibalah disuatu tempat. Dalam peristirahatan, keduanya saling memuji bahwa meskipun perjalanan telah jauh dari Kartasura dan mengalami banyak rintangan, tetapi keduanya tetap setia yang menunjukkan kemantapan (ke-teguhan) hati untuk bersatu selamanya. Sebelum melanjutkan perjalanan sepasang kekasih tersebut berkata bahwa tempat tersebut diberi nama “Teguhan”.

Perjalanan Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun berlanjut menuju Bangsewu (gebang sewu) Desa Semen. Ketika telah lelah berjalan dalam pengembaraannya (lelono-jawa) sang putripun terhenti (jedug-jawa) ditepi sungai ketonggo. Melihat sungai besar yang arusnya deras serta dalam, keduanya termangu dan ragu apakah bisa melalui atau tidak. Bersama kudanya mereka terus nekat menyeberangi sungai. Ketika sampai ditengah-tengah sungai, tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi masuk dalam pusaran air, karena arus yang kuat dan panik tangan sang putri terlepas dari pegangan Panembahan Jimbun, putripun hilang disungai itu. Panembahan Jimbun yang selamat dari arus tersebut menyampaikan ke penduduk setempat bahwa wilayah itu diberi nama “Kedungputri”.

Panembahan Jimbun dalam gundahnya bersumpah untuk tetap mempertahankan cinta dan kesetiaannya pada Putri Sukawati dengan mengatakan bahwa dia tidak akan menikah seumur hidupnya (madad-jawa). Kemudian Panembahan Jimbun berbalik arah bermaksud kembali ke Kartasura untuk mengabarkan hilangnya Putri Sukawati.(bersambung/pr)




Artikel Terkait



1 komentar:

Aan cell mengatakan...

jadi seperti ini cerita desa teguhan,..hmmmm romantis... hehehe

Poskan Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda