PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Selasa, 02 Oktober 2012

Home > > Pasca Kebakaran Gunung Lawu: Bahaya Tanah Longsor Dan Banjir Mengancam

Pasca Kebakaran Gunung Lawu: Bahaya Tanah Longsor Dan Banjir Mengancam

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Dibilang, kebakaran hebat yang melanda berbagai kawasan hutan Gunung Lawu telah padam. Namun kini muncul kekhawatiran warga yang bermukim sekitar gunung yang mempunyai ketinggian 3.265 meter tersebut akan bahaya longsor, kelak bila musim hujan tiba lantaran hutan kini telah gundul.

Seperti kata Basuki, seorang warga Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, menjelang musim penghujan tahun ini diharapkan penduduk yang bermukim dibawah lereng untuk mewaspadai terjadinya banjir dan tanah longsor yang terjadi secara mendadak. “Karena kebakaran hutan Gunung Lawu pada saat ini lumayan besar setelah tahun 2003 lalu, maka dampaknya harus kita waspadai bersama saat musim penghujan nanti,” ungkap Basuki, beberapa hari kemarin.

Yang sangat dikhawatirkan Basuki, tumpukan arang bekas dari kebakaran hutan bila terkena guyuran hujan lebat akan mengakibatkan banjir. “Apalagi setelah kebakaran tanahnya gundul tanpa menyisakan semak-semak serta tanaman perdu lainya kecuali pohon yang besar, sehingga penyerapan air berkurang bisa saja berakibat banjir dan tanah longsor,” urainya. Selain itu tambah Basuki, sumber mata air yang terdapat di kaki Gunung Lawu nantinya akan terkena limbah kebakaran. Bahkan areal pertanian seperti ladang serta sawah yang posisinya dekat dengan aliran sungai akan terkena imbasnya yakni bisa saja teraliri limbah kebakaran hutan yang datangnya dari lereng-lereng terdekat.

“Untungnya pada tahun ini kebakaran hanya terjadi di kawasan hutan lindung dan tidak sampai merembet ke hutan produksi yang mayoritas tanaman pinus,” bebernya lagi. Untuk menekan dampak kebakaran harap Basuki yang merupakan pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) desa setempat segera diadakan reklamasi agar secepatnya menjadi kawasan hijau kembali. Penjelasan dari salah satu warga ini bukan tanpa alasan akibat kebakaran hutan yang selalu merugikan semua pihak. Terlebih dari semua hal, hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya.

Sayangnya, kebakaran hutan lereng Gunung Lawu selama ini secara persis belum diketahui penyebabnya. Bahkan, penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan, apakah karena alami atau karena ulah manusia. Terlepas akar permasalahan semua itu yang perlu dikaji kembali adalah system yang berlaku tentang penataan hutan untuk menekan tingkat kerusakan hingga kebakaranya. Apakah faktor struktural yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan, sehingga menimbulkan konflik berkelanjutan antar hukum adat dan hukum positif negara. (pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda