PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Senin, 11 Maret 2013

Home > > Team Dokter Tak siap Darah, Pasien Jampersal Meninggal Berserta Bayinya

Team Dokter Tak siap Darah, Pasien Jampersal Meninggal Berserta Bayinya

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Tragis apa yang dialami Siswo Handoyo, warga Sidomakmur, Ketanggi Ngawi. Semula, sang istri menjalani bedah Caecar sebagai pasien Jumpersal, yang bayinyapun dinyatakan meninggal oleh pihak RSUD dr Soeroto. Kesedihan makin bertambah saat tak selang berapa lama istrinyapun turut meninggal meski sempat dirujuk ke Madiun.

Peristiwa bermula saat Novi Isnaini (30) dirujuk ke RSUD Dr Soedono Madiun sekitar pukul 18.30 WIB, Sabtu petang (9/3), setelah sebelumnya menjalani operasi pengangkatan bayi dari rahimnya atau operasi caesar di RSU Dr Soeroto Ngawi.

Menurut keterangan Siswo Handoyo suami pasien, istrinya meninggal lantaran kehabisan darah akibat kurangnya persiapan yang dilakukan tim dokter ketika operasi caesar dilakukan.

Sesuai kronologinya yang diungkap Siswo Handoyo pada malam sebelumnya kandungan istrinya tersebut mengalami pendarahan dan diperiksa oleh Dokter Farida hasilnya melalui pemeriksaan USG bahwa janin yang dikandungnya selama 6 bulan ini sudah meninggal.

Malam itu juga pasien langsung dibawa ke RSUD Dr Soeroto Ngawi untuk mendapatkan perawatan selanjutnya di poliklinik khusus kandungan. Dan keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB Siswo Handoyo dimintai persetujuan akan dilakukan operasi pengangkatan janin serta rahim, tidak berselang lama operasipun dilakukan oleh tim dokter diruang bedah.

“Menjelang operasi dilakukan Dokter Indah menyarankan agar kantong rahim harus diangkat namun Dokter Farida menyarankan jangan dulu dengan alasan anak saya baru satu, dan waktu pelaksanaan operasi sendiri tidak ada persiapan darah golongan AB sesuai darah istri saya apalagi satu hari itu terjadi dua operasi akhirnya,” terang Siswo Handoyo.

Namun setelah operasi caesar selesai pendarahan yang dialami pasien juga belum berhenti apalagi pada waktu bersamaan petugas medis menyatakan ke pihak keluarga bahwa stok darah untuk operasi sendiri sudah habis.

Kontan saja karena belum ada persiapan sama sekali Siswo Handoyo dibuat kalang kabut langsung pergi ke PMI untuk mencarikan darah golongan AB.
Naasnya, proses pengambilan darah golongan AB sendiri ketika sampai di PMI ternyata harus menunggu satu jam lamanya dengan alasan menunggu pemeriksaan darah meskipun golongan darah pesananya sudah ada.

“Pada waktu menunggu mendapatkan darah itu pihak dokter sudah berulangkali menelepon saya agar secepatnya jangan menunggu lama, setelah dapat langsung saya antar tapi kondisi istri saya sudah kritis bahkan kalau boleh dibilang sebetulnya sudah meninggal tetapi dokter menyatakan masih hidup,” urainya lagi.

Selain itu Siswo Handoyo juga mencurigai akibat pemberian obat bius yang berlebihan sekujur tubuh istrinya tersebut melempuh kebiruan. Anehnya, kondisi pasien yang sedemikian kritis tersebut malah tim medis menyarankan agar secepatnya pasien dirujuk ke RSUD Dr Soedono Madiun.

Kata Siswo Handoyo tim medis pada saat itu beralasan peralatan yang ada di RSUD Dr Soeroto Ngawi sangat terbatas dan ketika sampai di Madiun justru pasien meninggal dunia.

Terkait meninggalnya Novi Isnaini pihak RSUD Dr Soeroto Ngawi melalui Dr Pujiono selaku direkturnya angkat bicara, pendarahan yang terjadi tersebut akibat factor komplikasi pada diri pasien apalagi keberadaan janin didalam rahim sudah meninggal sebelumnya.

Selaku pimpinan RSUD Dr Soeroto Ngawi Dr Pujiono mengakui kalau tim dokter melakukan dua operasi terhadap pasien. “Operasi pertama itu untuk mengangkat janin yang meninggal karena kalau tidak diangkat akan membahayakan kondisi ibunya dan terbukti terjadinya pendarahan,” jelasnya.

Kemudian mengenai dilakukanya operasi kedua selaku dokter dirinya membeberkan akibat terjadinya plasenta akreta yakni terjadinya pendarahan yang tidak bisa terdeteksi oleh alat medis.

Sehingga kasus semacam itu lanjut Dr Pujiono harus diangkat rahimnya karena kalau dibiarkan pendarahan akan terus. “Dan prosedur pengangkatan rahim sudah hal yang lumrah dan sudah procedural,” terangnya.

Tambah Dr Pujiono, menyangkut stok darah sewaktu pelaksanaan operasi sebetulnya sudah di amprahkan tetapi melewati prosedur crosmet meskipun demikian sudah adanya antisipasi pemberian cairan semacam darah dan terbukti sudah menolong pasien.

Pungkasnya, permasalahanya pasca operasi ada komplikasi lagi berupa Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) atau faktor pembekuan darah yang jumlahnya menyusut sehingga pendarahan tidak bisa berhenti dan hal itu diluar kemampuan medis. (pr)

Artikel Terkait



2 komentar:

eko mega prasetiya mengatakan...

إنّا للّه و إنّا إليه راجعون

Usut sampai TUNTAS

Jangan ada korban berikutnya.

(Semoga keluarga yg di tinggalkan, di beri ketabahan & kesabaran)

Anonim mengatakan...

Kebangetan banget.

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda