PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Minggu, 19 Oktober 2014

Home > > Tradisi “NGASAK” Selalu Mewarnai Saat Musim Panen Raya Padi Tiba

Tradisi “NGASAK” Selalu Mewarnai Saat Musim Panen Raya Padi Tiba

berita terkait tradisi ngasak di ngawi

NGAWI™ Tiap kali musim panen raya padi tiba, dipastikan ada sisi lain yang menarik untuk dicermati. Yaitu aktifitas yang biasa disebut “Ngasak” (Memungut sisa-sisa hasil panen berupa butiran padi). Satu diantaranya, seperti yang dilakukan oleh Suratmi (55) warga Dusun Kerten, Desa Teguhan, Kecamatan Paron, Ngawi ini dengan telaten memilah limbah jerami guna dapatkan beberapa butir padi,(19/10).

Dengah wajah percaya diri Suratmi memukul-mukulkan jerami dengan sebatang tongkat dari bambu hingga bulir padi yang tersisa jatuh. Dengan modal kesabaran Suratmi mengatakan dalam seminggu sudah mampu mengumpulkan hampir 90 kilogram gabah.

“Kalau dihitung seminggu ini ya banyaklah yang saya kumpulkan,” terang Suratmi.
Kata dia dalam seharinya rata-rata yang dihasilkan berkisar antara 10 kilogram sampai 17 kilogram gabah. Hasil puluhan kilogram tersebut, menurut Suratmi jelas sebanding dengan duduk dibawah terik matahari hingga berjam-jam.

Dengan membawa bekal nasi komplit lauk Suratmi berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB dan baru kembali berkumpul keluarganya lagi pada sore harinya. Dalam sehari dirinya melakukan aktivitas memang tidak satu tempat terpaksa harus pindah-pindah lokasi menyesuaikan sawah yang dipanen bahkan hingga ke lain desa.

Suratmi yang sudah menjadi pengasak hampir tiga tahun ini dalam satu musim panen mampu mengumpulkan hingga 17 sak atau sekitar 6 kwintal lebih gabah. Kalau dibanding dengan petani sendiri bisa ditebak hasil asakanya tersebut jelas lebih untung karena hanya bermodalkan tenaga dan rasa malu.

“Pada awalnya ada rasa gimana gitu pokoke isin (malu-red) dan tidak jarang dibentak oleh si pemilik sawah. Tapi ya gitulah demi hidup karena saya sendiri tidak punya sawah dan harus menghidupi keluarga,” pungkas Suratmi.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro



Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda

 
close
Banner iklan disini