PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Selasa, 13 Oktober 2015

Home > > Kembangkan Identitas Daerah, Keduk Beji Siap Songsong Visit Ngawi Years 2017

Kembangkan Identitas Daerah, Keduk Beji Siap Songsong Visit Ngawi Years 2017

Duk Beji Tawun  Ngawi: merupakan salah adat budaya penduduk Desa Tawun yang tetap lestari hingga kini.

SN™ NGAWI-Keduk Beji atau biasa disebut Duk-beji merupakan warisan budaya leluhur yang tetap dilestarikan hingga kini oleh masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman Ngawi. Ritual tahunan digelar selalu tepat pada hari Selasa Kliwon, diawali dengan acara paling sakral yang dilakukan beramai-ramai oleh warga guna membersihkan Beji, yaitu sebuah mata air yang terletak di kawasan taman pemandian Tawun.

“Setiap daerah mempunyai ikon khas akan budaya seperti grebek suro yang ada di daerah lain. Dan di Ngawi ini setidaknya ada Keduk Beji dan menjadi satu pertanyaan apabila kegiatan yang sudah mentradisi ini terkikis oleh budaya luar. Kewajiban kita tidak lain adalah melestarikanya,” jelas Sukadi, Kabid Kebudayaan Dispariyapura Kabupaten Ngawi.

Tambahnya lagi, saat ini potensi budaya lokal memang dirasakan makin minus dan tergerus budaya global. Adanya Keduk Beji sebagai satu wahana budaya yang harus dikedepankan sebagai bagian identitas daerah.

Sementara salah satu tokoh masyarakat setempat, Supomo selaku juru selam yang sudah dikenal ini mengatakan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu. Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran.

Menurutnya, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber Beji sendiri.

Dapat ditambahkan. Konon ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Setelah bertapa lama, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya hilang dan timbulah air sumber ini.

Ritual ini berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh pemuda desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Pewarta: kun/PR
Editor: Kuncoro


Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda