PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Kamis, 21 September 2017

Home > > Masuk Malam 1 Suro 1439 H, Tempat Wisata Religi Srigati Dipadati Pengunjung

Masuk Malam 1 Suro 1439 H, Tempat Wisata Religi Srigati Dipadati Pengunjung

Palereman Alas Ketonggo Srigati Ngawi

SINAR NGAWI ™ Ngawi-Masuk malam satu Suro 1439 Hijriyah, lokasi wisata bernuansa religi Srigatai yang berlokasi di alas Ketonggo sekitar 17 kilometer pusat pemerintahan Kabupaten Ngawi tepatnya masuk Desa Babadan, Kecamatan Paron, dipadati ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah mulai menuju beberapa tempat yang dianggap memiliki kekuatan magis seperti pertapaan Palenggahan Agung Srigati.


“Disini pengunjung mempunyai berbagai permintaan untuk dikabulkan dari Yang Maha Kuasa, seperti minta kesehatan, keselamatan dan masih banyak lagi dan jangan dianggap di Alas Srigati ini melakukan hal-hal yang menyimpang,” terang Ki Among Jati, juru kunci area wisata Srigati.

Tambah Mbah Marji atau biasa disapa Ki Among Jati, para pengunjung setelah sampai di tempat-tempat yang sakral langsung melakukan semedi atau ngalap berkah dibeberapa tempat menurut keyakinan mereka masing-masing.

Secara ringkas terkait Palenggahan Agung Srigati tidak lepas dari catatan sejarah sebelumnya. Menurutnya sejarah mencatat keberadaan Srigati di Alas Ketonggo erat kaitanya dengan masa runtuhnya Kerajaan Majapahit kala itu dibawah Prabu Brawijaya V.

Sumber tersebut diperkuat dari pernyataan Gusti Pangeran Dorodjatun dari Kasunanan Surakarta tahun 1974.

Ketika itu mendatangi Alas Ketonggo sesuai mata batinya atau hasil penerawanganya mengatakan didekat lokasi Tempuran Pesing ada Punden Krepyak Syeh Dombo.

Di punden itu mendasar keterangan Pangeran Dorodjatun saat itu dapat dikaitkan dengan riwayat perjalanan atau lengsernya Prabu Brawijaya sebelum muksa di puncak Gunung Lawu.

Sementara di Punden Krepyak Syeh Dombo yang sekarang dikenal Punden Srigati itu ditengarai Prabu Brawijaya melepaskan baju kebesaranya dengan dilanjutkan siram jamas di Kali Tempur yang berada kurang lebih 200 meter dari Punden Srigati.

Setelah siram jamas sebagai bentuk penyucian diri lalu Prabu Brawijaya bersemedi atau berdoa dan mendapatkan satu petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk pergi ke puncak Gunung Lawu secara Islam dengan gelar Sunan Lawu.
Pewarta: Kun/pr
Editor: Kuncoro


Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda