PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Sabtu, 12 November 2022

Home > > Dongkrak Pamor Minuman Tradisional, Cincau Clinic Berkolaborasi dengan Petani

Dongkrak Pamor Minuman Tradisional, Cincau Clinic Berkolaborasi dengan Petani

Berita Hari Ini Seputar Ngawi

Bekasi-Sinar Ngawi Media-Memberdayakan petani, sekaligus mendongkrak pamor minuman tradisional. Itulah visi yang diusung oleh Cincau Clinic. Brand ini merupakan UMKM yang bergerak di bidang food and beverage (F&B) di Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Kita ingin memberdayakan petani sekaligus melestarikan minuman tradisional. Caranya beradaptasi dengan selera modern sehingga tetap relevan dengan trend minuman-minuman kekinian yang semakin marak bermunculan,” kata Fidya Zurasta, pendiri Cincau Clinic. 

Fidya mengakui bahwa adanya UMKM yang bisa menggerakkan rantai pasok (supply chain) merupakan tujuan utamanya mendirikan Cincau Clinic. Rantai pasok yang dimaksud adalah adanya petani yang memasok bahan baku, UMKM yang memproduksi produk, dan mengirimkannya kepada konsumen. 

“Sebaik-baiknya bisnis tentu yang bisa bermanfaat buat orang banyak, termasuk saudara-saudara kita para petani,” urai Fidya yang juga alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya ini. 

Masih menurutnya, daun cincau sebagai bahan baku utama Cincau Clinic, dipasok oleh para petani dari Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

“Kita sadar sekarang eranya globalisasi. Jadi tantangannya adalah bagaimana minuman tradisional bisa menyesuaikan diri tanpa harus meninggalkan identitas aslinya,” ujar Fidya. 

Oleh karena itu, tambah dia bahwa Cincau Clinic memasarkan es cincau susu yang dikreasi dalam berbagai varian rasa, mulai dari es kopyor, brown sugar, alpukat, cocopandan, sampai susu kedelai (soya). 

Terpisah, Wahyudi, seorang petani cincau Ciomas, yang bersyukur atas adanya kolaborasi antara UMKM dengan para petani seperti dirinya. 

“Kesulitan kami selama ini ketika menanam cincau, jalur pemasaran daun yang rutin itu belum ada. Itu yang jadi kendala kami selama ini,” ujar Wahyudi.

Kini, berkat adanya Cincau Clinic, petani seperti Wahyudi paling tidak seminggu sekali bisa menjual daun cincau sebagai bahan minuman. 

“Saya menanam cincau jenis jelly. Tapi karena Cincau Clinic butuh juga cincau bulu, maka saya bisa mengajak petani lain. Alhamdulillah, adanya akses pemasaran ini saya bisa memperluas lahan agar kesinambungan pasokan terjaga,” papar Wahyudi. 

Medreach
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda