PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Minggu, 08 April 2012

Home > > Baru selesai dibangun, Tanggul Kali Madiun ambrol, rusak dua rumah warga

Baru selesai dibangun, Tanggul Kali Madiun ambrol, rusak dua rumah warga

| NGAWI SINAR NGAWI | portal pemberitaan Ngawi|Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | tentang |Tanggul penahan banjir di Kali Madiun yang terbuat dari bronjong, jebol sepanjang 50 meter dengan kedalaman 10 meter, akibatnya dua rumah warga di Dusun Kramat, Desa Tirak, Kecamatan Kwadungan langsung roboh terseret banjir, Jum’at (06/4).

Kejadian berawal saat hujan mengguyur cukup deras di wilayah tersebut sehingga banjir tidak terelakan, luapan air dari Kali Madiun menerjang puluhan meter bronjong penahan banjir dan saat itu juga langsung ambrol.

Sehingga rumah milik Kusmarwan (45 th) dan Udin (38 th) warga setempat yang jaraknya hanya 3 meter dari bibir Kali Madiun sekitar pukul 02.30 wib ikut ambrol terbawa arus banjir Kali Madiun.

Untungnya dari kejadian ini tidak hanya korban jiwa namun, kerugian materi diperkirakan mencapai puluhan juta. “Dini hari tadi ada suara gemuruh begitu dilihat ternyata sumbernya dari terjangan air yang merobohkan rumah,” terang Udin.

Dengan kejadian tersebut kontan saja Udin dan Kusmarwan yang dibantu beberapa warga disekitarnya malam itu juga langsung menyelamatkan barang-barang yang masih tersisa seperti perabotan rumah tangga dan sisa-sisa bangunan. “Kita tidak bisa berbuat banyak dengan kejadian semalam, meskipun setiap musim penghujanya kejadian serupa sering melanda daerah sekitar sini,” urainya lagi.

Menurut Udin, bronjong penahan banjir yang ada disamping rumahnya baru selesai dibangun sekitar akhir Februari 2012. Akan tetapi sesuai kenyataan yang ada keberadaan bronjong tidak mampu menahan hempasan banjir yang terus menggerus tanah disekitar areal perumahanya.

“Seharusnya bronjong itu masih kuat menahan beban tanah diatasnya serta hempasan banjir, tetapi baru selesai satu bulan lalu kok jebol kan aneh,” imbuh Udin. Jebolnya bronjong sepanjang puluhan meter itu selain merobohkan dua rumah juga mengancam puluhan rumah warga lainya yang rata-rata jaraknya sekitar 3 meter dari bibir Kali Madiun.

Sebelumnya, dampak ambrolnya bronjong juga merobohkan 5 rumah warga sekaligus. Peristiwa tersebut kata warga lainya, terjadi pada musim penghujan tahun lalu dimana rumah milik Saning, Sarinem, Sani, Waisah dan Gono terseret banjir setelah bronjong yang ada dibibir Kali Madiun ambrol akibat gerusan air dibawahnya.

“Kalau dilihat dari kultur tanah disini memang labil terhadap erosi kalau membangun bronjong hanya asal-asalan ya demikian ini akibatnya,” kata Tono.

Bahkan tingkat erosi Kali Madiun lanjut Tono, dalam dua tahun terakhir mencapai puluhan meter ke arah tanah serta pemukiman warga. “Dulunya jarak rumah warga dengan Kali Madiun puluhan meter dan tidak seperti saat ini yang kita lihat, dan aliran Kali Madiun saat ini justru pindah diatas tanah warga akibat erosi yang terus-terusan ,” ungkapnya.

Terkait ambrolnya bronjong penahan banjir Kali Madiun untuk saat ini para korban belum menerima bantuan dari pemerintah dalam ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi.

Pihak BPBD sendiri saat dikonfirmasi masih melakukan pendataan terhadap korban, namun berjanji dalam waktu singkat akan meluncurkan beberapa bantuan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sementara Suprapto anggota komisi I DPRD Ngawi yang juga sebagai warga Desa Tirak, Kecamatan Kwadungan angkat bicara.

Menurutnya, dengan ambrolnya bronjong sepanjang 50 meter yang dibangun oleh pihak Pembangunan Perumahan dan Nindra Karya (PP dan NK) Jakarta yang Kerja Sama Operasional (KSO) dengan Balai Besar Bengawan Solo tidak perlu saling menyalahkan. Hanya saja dirinya menyayangkan kepada pihak PP dan NK saat pembangunan bronjong dimulai sudah memasuki musim penghujan.

“Yang jelas saat bronjong dibangun yang jumlahnya sembilan belas trap atau lapisan tidak sampai pada dasar sungai sehingga bisa saja air menggerus bagian bawah bronjong yang tanahnya masih labil,” terang Suprapto. (pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda