SN Media™ NGAWI – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono meninjau distribusi air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Rabu (21/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah mengungkapkan kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dari perkiraan awal. Kondisi itu dipengaruhi fenomena El Nino yang membuat musim hujan mundur dari prediksi sebelumnya.
“Awalnya BMKG memprediksi puncak kemarau terjadi pada September, kemudian awal musim hujan diperkirakan mulai Oktober. Namun, berdasarkan pembaruan terbaru, potensi hujan baru terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027,” ujar Khofifah.
Situasi tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi lebih matang, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama musim kemarau. Distribusi air bersih menjadi salah satu upaya yang terus dilakukan untuk membantu warga di wilayah terdampak.
Khofifah menilai, mundurnya musim hujan perlu menjadi perhatian bersama karena berpengaruh terhadap ketersediaan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian. Pemerintah daerah diminta memperkuat mitigasi agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
Menurutnya, perubahan pola musim juga menuntut perencanaan yang lebih komprehensif. Apalagi, periode hujan pada tahun ini hingga tahun depan diperkirakan relatif singkat sehingga pengelolaan sumber daya air perlu diperhatikan sejak dini.
“Jadi, tahun ini dan tahun depan itu hanya tiga bulan turun hujan. Oleh karena itu, mitigasi harus dilakukan secara lebih komprehensif,” tegasnya.
Selain penyaluran air bersih, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi dampak kekeringan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Khofifah mengatakan, pelaksanaan OMC menyesuaikan kondisi atmosfer dan pergerakan awan yang terpantau.
Operasi dilakukan ketika terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk mendukung upaya penambahan curah hujan di wilayah sasaran.
“Kita ini sebetulnya sudah dipandu oleh BMKG. Asal ada pergerakan awan, kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Titiknya di mana tergantung di mana awan itu bergerak,” pungkasnya.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Pewarta: Tim
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok rblk
*** : ----
Copyright : SNM