SN Media™ Ngawi - Memasuki puncak kemarau 2026, sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi mulai mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut terutama dirasakan warga di sejumlah dusun yang sumber airnya semakin terbatas akibat minimnya hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi pun memperkuat mitigasi untuk memastikan kebutuhan air bersih warga terdampak dapat ditangani secara terkoordinasi. Selain memetakan titik kekeringan, BPBD menyiapkan berbagai peralatan pendukung distribusi air serta tandon air di lokasi yang membutuhkan.Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ngawi Yudha Herlambang mengatakan, pemetaan dilakukan untuk mengetahui wilayah terdampak sekaligus menjadi dasar dalam menentukan prioritas penyaluran bantuan.
“Mitigasi yang dilakukan selain pemetaan titik-titik wilayah terdampak kekeringan, kami juga menyiapkan alat pendukung untuk distribusi air bersih maupun tandon air,” ujar Herlambang.
Dengan pola itu, bantuan dari berbagai pihak dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah dan menghindari tumpang tindih pengiriman.
Berdasarkan pemetaan BPBD, terdapat 12 dusun yang terdampak kekeringan. Di Kecamatan Bringin, wilayah terdampak meliputi Dusun Gagan di Desa Kenongorejo sebanyak 54 KK, Dusun Jatisuwak Desa Suruh 140 KK, serta Dusun Kedungrejo Desa Bringin 34 KK.
Sementara di Kecamatan Pitu, kekeringan terjadi di Dusun Kaligede Desa Ngancar yang mencakup 57 KK, Dusun Ngerowo Desa Cantel 30 KK, dan Dusun Ngilon Desa Bangunrejo Lor sebanyak 89 KK. Wilayah lain berada di Kecamatan Kasreman, yakni Dusun Sumberan Desa Kiyonten dengan 26 KK dan Dusun Gunungsari Desa Gunungsari sebanyak 34 KK.
Di Kecamatan Ngawi terdapat Dusun Tambakselo Desa Banyuurip 80 KK, Dusun Gandu Desa Karangtengah Prandon 3 KK, serta Dusun Blandongan Desa Ngawi 15 KK. Sedangkan Kecamatan Karangjati mencatat Dusun Pakolan Desa Rejuno dengan 24 KK terdampak.
Data tersebut menjadi acuan dalam mengatur kebutuhan distribusi air bersih agar bantuan diberikan berdasarkan kondisi lapangan. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya BPBD menjaga kesiapsiagaan selama kemarau, terutama ketika kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi meningkat di sejumlah wilayah terdampak.
“Koordinasi ini kami lakukan supaya distribusi air bersih bisa merata, permintaan dapat diakses lebih cepat, dan tidak terjadi tumpang tindih bantuan di lapangan,” pungkasnya.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM