SN Media™ Ngawi - Puncak musim kemarau 2026 mulai memberikan dampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Ngawi. Periode kering yang berlangsung cukup panjang membuat sumber air warga semakin terbatas, terutama di kawasan pedesaan.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari masyarakat ikut terdampak. Air yang tersedia harus digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga minum.Di sisi lain, sebagian warga juga memerlukannya untuk menunjang aktivitas produktif dan ternak. Kepala Bidang Kawasan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Ngawi Pipit Dwi Herlina mengatakan, peningkatan konsumsi terjadi seiring bertambahnya pemakaian masyarakat selama periode kemarau.
“Rata-rata pemakaian sebelumnya sekitar 80 liter per orang per hari, sekarang meningkat menjadi sekitar 100 sampai 110 liter per orang per hari. Kenaikan ini karena pemanfaatannya juga untuk menunjang produktivitas masyarakat dan kebutuhan minum ternak,” ujarnya.
Dropping air kemudian dilakukan sejumlah pihak untuk membantu warga terdampak. Distribusi tersebut perlu disesuaikan dengan jumlah warga, kapasitas penampungan dan kondisi setiap lokasi agar pasokan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan, volume yang diperlukan masyarakat terdampak di sejumlah lokasi mencapai sekitar 240.000 liter per hari. Besaran tersebut menunjukkan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan koordinasi lintas sektor, terutama ketika kondisi kering berlangsung dalam waktu lama.
Selain distribusi menggunakan kendaraan tangki, langkah mitigasi jangka panjang juga diperlukan. Penguatan sumber air, pembangunan tempat penampungan serta pemetaan wilayah rawan dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi periode kering berikutnya.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas masyarakat pedesaan. Ketersediaan air untuk ternak, misalnya, turut menentukan kemampuan warga mempertahankan kegiatan ekonomi di tengah musim kemarau. Pemerintah daerah bersama pemerintah desa dan stakeholder terkait perlu memperkuat pendataan serta menentukan skala prioritas penyaluran.
Dengan data yang lebih akurat, bantuan dapat diarahkan ke lokasi dengan kondisi paling membutuhkan. Masyarakat juga diharapkan menggunakan pasokan secara hemat dan mendahulukan keperluan pokok. Penghematan menjadi langkah sederhana untuk memperpanjang persediaan sebelum distribusi berikutnya dilakukan.
Pipit menegaskan penanganan kekeringan perlu dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah terdampak.
“Dropping tetap diperlukan, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Mitigasi dan penguatan sumber air juga penting supaya masyarakat lebih siap menghadapi kemarau panjang,” pungkasnya.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Pewarta: Asri
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM