media online pemberitaan kabupaten ngawi
PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Jumat, 28 Juli 2017

Overpass Tol Solo-Ngawi Masuk Desa Jenggrik Masih Temui Jalan Buntu

Uverpass to solo-ngawi di jenggrik

SINAR NGAWI ™ Ngawi-Setelah sempat melakukan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Dusun Mblembem, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, yang menutut adanya overpass yang layak di Tol Solo-Ngawi, akhirnya pihak PT SNJ serta PT Waskita Karya melakukan koordinasi bertempat di Aula Kecamatan setempat. Kendati demikian hal inipun masih menemui jalan buntu.

“Kami tidak bisa menerima alasan seperti itu. Dan tetap meminta adanya overpass yang layak,” terang Arifin salah satu Korlap Warga Dusun Mblembem.

Pasalnya, pihak PT SNJ tetap tidak bisa merealisasikan overpass sebagaimana tuntutan warga. Sebab, pembuatan overpass diperlukan bidang tanah yang lebih luas jika dilakukan akan menggusur satu gedung TK, masjid dan sumur pompa.

Selain itu, mendasar percepatan progress tol tidak memungkinkan pembebasan lahan tersebut.
Dilain sisi soal jalan akses, akan diganti disebelah utara tol dan terhubung langsung dengan underpass yang sudah ada.

Menanggapi jawaban PT SNJ pihak warga pun langsung menolak mentah-mentah tetap menuntut overpass sesuai perencanaan awal.

Meskipun mengalami kebuntuan hasil koordinasi tersebut tetap dibuatkan berita acara dimana PT SNJ tetap akan menindaklanjuti sebagaimana tuntutan warga dengan melaporkan ke Kementerian PU.

Dan hasilnya nanti jika sudah turun akan segera disosialisasikan ke warga masyarakat setempat.
Pewarta: Kun/pr
Editor: Kuncoro


Kamis, 27 Juli 2017

Kasdim 0805 Hadiri Pengukuhan Dan Raker MUI Kabupaten Ngawi

Raker MUI Kabupaten Ngawi

SINAR NGAWI ™ Ngawi-Pengukuhan dan Rapat Kerja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ngawi masa khidmat 2017-2022, di Pendopo Wedya Graha, dihadiri Sekertaris MUI Jatim Muh Masduki, Ketua Bidang Kominfo MUI Jatim Abdurrahman Aziz, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, Kepala Staf Kodim 0805 Ngawi Mayor Inf Eko Wardoyo, Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiharja, Ketua MUI Ngawi KH Kholil Tohir.

Dengan dilaksanakan Pengukuhan dan Rapat Kerja, selain untuk mengukuhkan pejabat baru juga untuk membuat rencana program MUI Ngawi agar dapat bekerja lebih baik yang mempunyai kearifan lokal sebagai ulama Indonesia.

“Fisi MUI adalah menciptakan kemaslahatan umat dalam bingkai NKRI. Semoga kepengurusan MUI Ngawi kedepan nanti dapat membawa perubahan lebih baik sehingga Ngawi aman dan damai,” terang Ketua MUI Ngawi, KH DR. Kholil Tohir

Masih ditempat yang sama, Bupati Ngawi, Budi Suistyono berharap pada MUI selain bergerak bidang agama diharapkan bisa menjadi tiang Pancasila, melalui hal tersebut supaya bisa menyatukan Islam Nusantara yang dapat mewadahi keberagaman.

“Tugas MUI adalah menjaga persatauan dan keberagaman yang ada, serta menjaga toleransi beragama bermasyarakat dan bernegara sehingga Kabupaten Ngawi menjadi kondusif dan aman,” jelas dia.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Panitia, Syaiful Bahri menyatakan bahwa MUI adalah sebuah wadah ulama yang memiliki tanggung jawab langsung untuk ikut mensukseskan pembangunan nasional melalui konsep percontohan dalam membimbing ulama agar meningkatkan iman serta berperan aktif dalam memberikan fatwa keagamaan dalam khidupan beragama.

“Dengan demikian MUI dapat menjadi penghubung antara umat beragama dan pemerintah demi tercapainya kehidupan umat beragama dengan pemerintah yang damai,'' katanya.


Ketua Bidang Kominfo MUI Jatim Abdurahman Aziz, dalam sambutannya juga menekankan tujuan nasional MUI adalah menyatukan seluruh umat Islam sehingga MUI memiliki andil besar dalam persatuan dan kesatuan Bangsa, konsep-konsep MUI tidak hanya mengeluarkan Fatwa.

“MUI adalah wadah umat Islam yang harus dekat dan bersinergi dengan pemerintah karena MUI adalah lembaga yang secara tidak langsung membantu mengerjakan tugas pemerintah”, jelasnya.(Dim 0805/Ngw).
Editor: Kuncoro

Rabu, 26 Juli 2017

Gunungan Hasil Bumi Diarak Keliling Alun-Alun Ngawi

festival gunungan di Ngawi

SINAR NGAWI ™ Ngawi-Masih merupakan salah satu perayaan hari jadi Ngawi ke 659, festival Gunungan dengan menampilkan 24 jenis gunungan, acara ini juga dalam rangka masuk tahun kunjungan wisata 2017. Bupati Ngawi Budi Sulistyono, dalam sambutannya menyatakan bahwa dengan menampilkan gunungan ini sebagai bentuk tradisi sedekah bumi untuk hasil akhir mengangkat ekonomi kerakyatan.

“Sebenarnya ekonomi kerakyatan sumbernya tidak ada di mana-mana melainkan ada di pasar-pasar tradisional.,” ungkap dia.

Tambahnya, festival Gunungan bakal digelar menjadi satu budaya tradisi disetiap tahunya sebagai penopang kekuatan terhadap khasanah budaya yang dimiliki Kabupaten Ngawi.

Demikian juga diharapkan, warga masyarakat harus memahami akan tradisi itu sendiri demi peningkatan kesejahteraan.

Ditempat yang sama, Yusuf Rosyadi Kepala Disdagsar Ngawi selaku ketua panitia menyebut jika Festival Gunungan yang digelar di depan halaman Pemkab Ngawi, merupakan kali pertama digelar hasil dari ide yang digagas sebelumnya.

Sementara, jalannya arak-arakan gunungan disambut meriah oleh warga Ngawi. Gunungan yang berisi aneka macam hasil pertanian serta beberapa olahan penganan dari palawija langsung diserbu pengunjung.
Pewarta/Foto: Kun/pr/sOn
Editor: Kuncoro


Senin, 24 Juli 2017

Tingkat Buta Aksara Di Ngawi Cukup Tinggi Se Jatim

berita pendidikan di Ngawi

SINAR NGAWI ™ Ngawi-Mendasar data yang ada, setidaknya hingga 2017 ini, tercatat 29.394 warga Kabupaten Ngawi masih buta aksara. Kepala Dindik Ngawi Abimanyu menerangkan, hal ini sangat memprihatinkan, karena dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur totalnya ada 34 ribu orang usia 15-59 tahun yang buta aksara dan dengan jumlah ini maka kabupaten Ngawi tergolong paling tinggi.

“Mengingat masih tingginya angka buta aksara di Ngawi secepatnya diberantas. Untuk itu kami berkomitmen melakukan percepatan pemberantasan itu bersama Polres Ngawi,” jelas dia.

Jelasnya lagi, melihat kondisi ini pihanya (Dindik-Red) membentuk kesepakatan MoU pemberantasan buta aksara dengan Polres Ngawi sudah terjadi sejak 8 Mei 2017 lalu.
Namun secara teknis administrasi demikian juga persiapan materi perlu ada tenggang waktu sehingga baru bisa terealisasi saat ini.

Secara teknis guna memperoleh hak pendidikan dasar bagi yang masih buta aksara pihaknya bersama Polres Ngawi melaksanakan pendidikan itu melalui lembaga pendidika non formal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Dan pelaksanaanya, setiap satu kelompok di desa bakal melibatkan Bhabinkamtibmas selaku tutor dengan 10 orang warga selaku anggota.

Diterangkan juga, waktu proses pendidikan keaksaraan dasar ini membutuhkan waktu selama 114 jam dengan setiap materi 60 menit.

Meski demikian secara akademis tetap mengacu pada tiga standar kompetensi baik lulusan, inti dan dasar.

“Nantinya setiap lulusan keaksaraan dasar ini bisa melanjukan ke jenjang berikutnya yakni program keaksaraan usaha mandiri dan bisa mengikuti ujian Paket A setara SD,” urainya lagi.

Ditempat yang sama, Aiptu Sapto Sumargono selaku Paur Humas Polres Ngawi menindaklanjuti pernyataan Wakapolres Ngawi Kompol Suhono menegaskan, sebelum menjadi tutor pendidikan keaksaraan dasar atau semacam PKBM para anggota Bhabinkamtibmas akan dibekali pelatihan khusus agar menguasai materi nantinya.

“Setiap anggota Bhabinkamtibmas harus mampu menguasai materi karena mereka selaku tutor. Materi yang diberikan tentang kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung dan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar,” tutup Aiptu Sapto Sumargono.
Pewarta: Kun/pr
Editor: Kuncoro


Minggu, 23 Juli 2017

Tingkatkan Mutu Akses Jalan Guna Perkuat IKM Dan Pertanian

Profil desa jogorogo kabupaten Ngawi

SINAR NGAWI™ Jogorogo-Guna menunjang akses baik dari sektor pertanian maupum produk usaha Industri Kecil Menengah (IKM) berupa produksi kripik singkong, Desa Jogorogo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi melakukan perbaikan diberbagai infrastruktur utamanya jalan. Nur Ekawati, Kades setempat menuturkan bahwa, dengan melakukan rabatisasi jalan diharap mampu mengangkat kesejahteraan warga.

“Selain potensi pertanian yang masih menjadi unggulan, untuk usaha rumahan berupa IKM, juga perlu perhatian serius dan perbaikan infrastruktur rabatisasi jalan tentunya bisa mendongkrak ekononomi warga,” terang dia.

Masih menurutnya, dengan pembangunan yang didanai Dana Desa (DD) tahun anggaran 2017, berupa rabatisasi jalan di Dusun Balepanjang Desa Jogorogo, juga sebagai akses sarana keshatan maupun pendidikan di wilayahnya.

“Keberadaan akses jalan yang layak sangat vital guna menunjang berbagai segi kemasyarakatan, baik ekonomi, kesehatan maupun pendidikan,” terangnya lagi.

Desa Jogorogo yang mempunyai ketinggian 150,00 Meter Di Atas Permukaan Laut (MDPL) berada sekitar 11 KM dari puncak Gunung Lawu serta 29 KM dari pusat pemerintahan kabupaten, mempunyai luas 718,24 Ha.

Bebrapa lembaga yang berkembang diantaranya, 1 lembaga koperasi simpan pinjam dan 40 kelompok simpan pinjam.

Penduduknya sendiri sebgaian besar adalah petani dengan luas wilayah menurut penggunaan, yakni tanah sawah sekitar 314,94 Ha, tanah kering 336,94 Ha.

Untuk batas desa, Sebelah utara Desa Dawung dan Desa Tanjung Sari, sebelah selatan Desa Kletekan dan Desa Brubuh, sebelah timur Desa Macanan dan bagian barat berbatasan langsung dengan Desa Setono.

Sebagai penunjang kesehatan warga, Desa Jogorogo juga terdapat beberapa layanan kesehatan, diantaranya, Puskesmas 1 unit, Apotik 2 unit, Posyandu 5 unit serta jumlah rumah atau kantor praktek dokter ada 1 unit.

Sedangkan sarana dan prasarana pendidikan, Gedung SMA/sederajat ada 2 lembaga, SMP 1 lembaga dan SD sederajat ada 5 lembaga serta TK dan Tempat Bermain Anak sebanyak 11 lembaga.
Pewarta: Kun/An
Editor: Kuncoro