PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Rabu, 07 November 2012

Home > > Sedikitnya 45 Ibu Rumah Tangga Meninggal Akibat HIV AIDS

Sedikitnya 45 Ibu Rumah Tangga Meninggal Akibat HIV AIDS

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Untuk wilayah Ngawi, terhitung sejak 2002 hingga akhir tahun ini, tercatat sedikitnya 45 orang meninggal dunia akibat HIV AIDS, yang kesemuanya adalah bestatus ibu rumah tangga. Demikian apa yang disampaikan oleh Dr.Endah Pratiwi, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL) Dinas Kesehatan setempat.

”Ibu rumah tangga ini meninggal lantaran tertular dari pihak suaminya yang kemungkinan suka melakukan sex bebas dengan pasangan lain, selain itu kasus HIV AIDS ini merupakan pandemi suatu penyakit dalam artian sudah menyebar seluruh dunia bukan lokal,” terangnya. Selasa, (06/11).

Kemudian jelasnya lagi, para pasien HIV AIDS tersebut baru mendapatkan penanganan medis setelah kondisinya parah yakni pada stadium tiga dan empat. Sehingga mengakibatkan angka kematian dari kasus HIV AIDS di Ngawi secara umum sangat tinggi.

Selain itu angka penyakit yang diakibatkan melemahnya kekebalan tubuh tersebut dalam kurun tiga tahun terakhir mengalami peningkatan cukup signifikan. Dari data P2P dan PL Dinas Kesehatan Ngawi pada tahun 2008 ada 5 kasus HIV AIDS, setahun kemudian tahun 2009 terjadi lonjakan kasus HIV AIDS menjadi 14 kasus dan pada 2010 ditemukan 4 kasus lagi.

”Terhitung sampai November 2011 lalu ada 82 kasus HIV AIDS namun kalau dihitung sampai tahun ini mungkin jumlahnya sudah ratusan penderita,” urai Dr.Endah Pratiwi. Dampak peningkatan penyakit mematikan tersebut lanjut Dr.Endah Pratiwi, di dominasi adanya gaya hidup yang tidak sehat seperti sex bebas, transfusi darah dan penggunaan narkotika.

”Tidak menutup kemungkinan penggunaan alat medis juga berpengaruh terhadap penularan penyakit itu, misalkan tang pencabut gigi dan alat penjepit walaupun untuk jarum suntiknya selalu diganti,” jelasnya lagi.

Meskipun cukup mematikan penyakit HIV AIDS bisa disembuhkan dengan cara diagnosa dini yakni lebih awal dalam penangananya. Kemudian paradigma pengindap penyakit HIV AIDS memang sangat dilematis apalagi pada pertengahan Maret tahun ini ada satu lagi warga yang terindikasi penyakit HIV AIDS seringkali pandangan masyarakat sekitar pasien bahwa HIV AIDS dapat menular dengan mudah dan yang parahnya lagi penyakit ini tidak bisa disembuhkan.

Stigma (pandangan-red) masyarakat inilah yang membuat keluarga pasien cukup terbebani mentalnya bisa saja mereka dikucilkan dari masyarakat.

Jelas Dr.Endah Pratiwi, penulaan penyakit HIV AIDS tidak semudah apa yang dikhawatirkan masyarakat. Akan tetapi lepas perasalahan tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi pun akan terus memantau perkembangan kesehatan para penderita HIV/AIDS yang masih bertahan hidup.

Rata-rata para penderita HIV AIDS adalah warga Ngawi yang pernah pergi ke luar daerah ataupun bekerja di luar negeri. Guna mengantisipasi penyebaran virus tersebut, Dinas Kesehatan setempat terus berupaya mensosialisasikan ke masyarakat agar tetap waspada terhadap perilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS. (pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda