PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Minggu, 21 April 2013

Home > > Perempuan Masih Rentan Jadi Korban Kekerasan

Perempuan Masih Rentan Jadi Korban Kekerasan

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Makna Hari Kartini yang jatuh tiap 21 April yang telah berjalan dalam kurun waktu se abad lebih ini, banyak hal yang dihasilkan dari perjuangan RA.Kartini yakni selangkah lebih maju dalam membangun eksistensi perempuan dari yang sebelumnya hanya dikonstruksi sebagai sosok yang berkecimpung diranah domestik saja.

Namun, masih adanya sederet permasalahan yang menjerumuskan kaum perempuan tanpa ada satupun solusi.

Kekhawatiran inilah yang dirasakan Dra.Samini salah satu tokoh sentral perempuan yang berkutat di Kabupaten Ngawi.

Menurutnya hingga sekarang ini korban kekerasan secara umum masih terabaikan seperti korban KDRT, kekerasan seksual dan lainya.

“Belum ada data yang pasti berapa jumlah perempuan di wilayah Ngawi ini dari tahun ke tahun sebagai korban kekerasan, dan parahnya hingga saat ini belum ada lembaga konseling atau pendampingan terhadap korban,” terang Dra.Samini.

Dra.Samini menilai perlindungan terhadap perempuan tidak hanya digelar melalui ceremonial kegiatan yang ujungnya tanpa ada tindak lanjut.

Sehingga dalam beberapa dekade sesuai dirinya mengabdi sebagai wakil rakyat, perempuan hanya dijadikan sebagai subyek manakala ada satu titik persoalan yang mendera kaum hawa tersebut.

Akan tetapi secara detail sebagai anggota DPRD Ngawi selama lima periode ini, Dra.Samini hanya melihat belum ada penuntasan kasus yang bersifat komperhenship.

Dengan demikian selaras dengan usianya, Dra.Samini menginginkan terbentuknya lembaga konseling yang menangani korban kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Ngawi.

“Kita akan bekerja nyata sesuai apa yang diharapkan masyarakat terutama kaum perempuan terlebih di Ngawi ini ada sekian kasus yang mendera buruh migran tapi kasusnya hanya berjalan ditempat,” ucapnya.

Dilain sisi secara riil alasan Dra.Samini mengedepankan pendampingan psikologis terhadap korban kekerasan, dia menegaskan dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, perempuan sebagai obyek kekerasan seringkali mengalami posisi yang sangat dilematis yakni karena dia menerima berbagai stigma yang dikaitkan dengan nilai-nilai sosial.

Misalnya, kasus perempuan dalam rumah tangga ketika si istri yang dipukul suami dengan berbagai alasan.

Akibat perlakuan tersebut jelas bukan hanya luka fisik tapi juga psikis. Luka fisik akibat kekerasan mungkin bisa sembuh, namun luka hati memerlukan proses panjang.

Bahkan mereka tidak jarang mengalami depresi berat yang akan merugikan si perempuan itu sendiri.

Maka dengan berbagai dasar itulah Dra.Samini menganggap perlu adanya bimbingan secra moral guna mengembalikan semangat hidupnya.

Jelasnya lagi, kalau perlakuan tersebut tidak secara cepat ditangani maka akan berakibat dan mempengaruhi perilaku dalam interaksi interpersonal maupun sosialnya ditengah masyarakat.

Pada tujuan akhir sesuai konsekuensi Dra.Samini bahwa pendampingan secara psikososial yang efektif akan mampu mewujudkan kemandirian sekaligus satu solusi pemberdayaan terhadap perempuan korban kekerasan.

Untuk kedepanya selaku kaum perempuan sendiri Dra.Samini sangat berharap sesuai dinamika perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat maka perempuan akan mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Sesuai hematnya, pendampingan pada korban akan sangat relevan dengan upaya preventif sebagai acuan dasar menghapus dan mencegah kekerasan terhadap perempuan.

Sesuai pesanya, manakala seorang perempuan lebih memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kesadaran matang, tanpa paksaan sehingga disana ia mampu menemukan dirinya, maka hal tersebut sebenarnya sudah merupakan bentuk dari emansipasi.

Begitu juga sebaliknya, tatkala seorang perempuan ingin bereksistensi di ruang publik, tanpa paksaan dengan tetap memperhatikan peran dan nilainya sebagai seorang ibu dan perempuan, maka hal tersebut sudah perwujudan dari emansipasi.

Sehingga pada perayaan hari Kartini ini, sebagai pangkal tolak untuk merefleksi diri menjadi seorang perempuan yang memiliki nurani untuk terus berkarya dan bereksistensi hingga ke masa depan.(pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda