PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Sabtu, 31 Agustus 2013

Home > > Warga Pelang Lor Terlibat Perang Baku Lempar Nasi

Warga Pelang Lor Terlibat Perang Baku Lempar Nasi

Wisata Budaya nyadran lempar nasi desa Plang Lor NgawiNGAWI™ Suasana Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, makin memanas saat waktu beranjak sore. Ratusan warga terlihat bersiaga dengan senjata sekepal nasi digenggaman yang siap untuk menghajar lawan. Inilah puncak jalannya ritual tahunan yang dikemas lewat budaya Nyadran tepat Jum’at Legi, (30/8).

Ritual ini guna menyambut datangnya Bersih Desa yang dilakukan di Sendang Tambak di Dusun Tambak Selo Timur, Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi.

Sebelum ritual dilakukan, seluruh warga yang ada di dusun tersebut membawa ambengan atau nasi yang lengkap dengan lauk pauk kemudian dibawa ke sebuah tempat yang diyakini mempunyai tuah tersendiri yakni di sumber mata air dengan nama “Sendang Tambak”.

Setelah semua sesaji dirasa komplit para sesepuh desa langsung membuka tradisi unik dengan saling melempar ambengan terhadap sesama warga. Adat “Bersih Desa” semacam ini menurut sesepuh desa setempat merupakan warisan dari leluhurnya yang dilakukan secara turun temurun.

Menurutnya, ritual warisan yang cukup melegenda tersebut bagian dari nilai-nilai luhur lama dan upaya menunjukkan bahwa manusia menyatu dengan alam. Ritual lempar nasi ini dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap melimpahnya hasil alam yang mampu menghidupi seluruh warga yang ada di desa ini.

Selain itu secara turun temurun adanya adat Bersih Desa dengan melempar nasi ambengan tidak lepas dari nilai sejarah yang ada. Pada zamanya dulu seiring berdirinya Dusun Tambak Selo Timur, ada seorang tokoh perjuangan pada era penjajahan Belanda dengan sebutan Ki Ageng Tambak.

Diketahui tokoh besar tersebut merupakan seorang penentang penjajahan atas warga pribumi yang dilakukan Belanda pada masanya. Suatu ketika Ki Ageng Tambak bersama pengawalnya dikejar-kejar Belanda dan sampailah di tengah hutan belantara.

Dengan posisi sudah terjepit musuh, Ki Ageng Tambak yang kebetulan ada didekat sumber mata air atau biasa dikenal dengan “Sendang” langsung bersabda tidak ada satupun peluru dari senapan Belanda yang sanggup menembus lokasi persembunyianya.

Maka untuk mengenang lokasi persembunyianya dengan menandai sebongkah batu hitam ini Ki Ageng Tambak berujar bila kelak daerah persembunyianya menjadi perkampungan ramai maka namanya akan disebut Dusun Tambak Selo.

Suyadi, Kepala Desa Pelang Lor, mengatakan, satu hari sebelum pelaksanaan Bersih Desa, pihaknya melakukan istighosah bersama warga dan tokoh masyarakat serta para ulama. Kegiatan ini dimaksudkan untuk lebih intropeksi diri juga lebih berserah diri terhadap Allah SWT. (pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda