PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Rabu, 25 September 2013

Home > > Dampak Kekeringan Dan Serangan Hama Wereng Makin Meluas

Dampak Kekeringan Dan Serangan Hama Wereng Makin Meluas

Luasan Tanah PertanianNGAWI™ Kekeringan di Ngawi makin meluas. Dipastikan ratusan hektar areal pertanian terancam gagal panen. Parahnya, serangan hama wereng pada pekan ini juga turut memperburuk keadaan. Pemkab setempat tak sepenuh hati tangani kasus ini. Ironisnya, justru ratusan proyek fisik jaringan irigasi yang dananya Milliaran Rupiah, banyak dikerjakan seantero Ngawi, yang dikondisi seperti ini tak banyak manfaatnya bagi petani.

“Kalau tiga sampai empat tahun lalu memang tidak sesulit tahun ini mendapatkan air dari saluran, meski digilir pada saat itu masih cukuplah untuk mengairi tanaman padi di sawah ini kalau sekarang sama sekali tidak ada airnya,” terang Sujono (45) warga Desa Teguhan, Kecamatan Paron, Ngawi, Rabu (25/09).

Tanaman padi yang sudah terlanjur mati ini tambahnya, akan digunakan untuk pakan ternak miliknya dan sebagian lagi yang masih hidup dia pertahankan sampai panen.

Nasib serupa juga dialami puluhan petani padi di Desa Klampisan, Kecamatan Geneng, sesuai pengakuanya pada musim tanam saat ini tidak mampu berbuat banyak karena kondisi sawah memang kesulitan air.

Padahal untuk keperluan irigasi petani di wilayah desa tersebut mengandalkan sumur bor namun sekitar tiga minggu lalu debit airnya menurun lantaran permukaan sumber air yang ada didalam kemungkinan besar mulai mengecil.

Kontan saja membuat petani habis kehilangan akal dan hanya cuma mengharap musim hujan segera datang. Dari perkiraan sesuai pengamatan media dampak kekeringan bakal terus meluas ke beberapa wilayah yang dianggap rawan kekeringan seperti Geneng, Pangkur, Paron, Bringin dan Karanganyar.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Karyanto (43) petani asal Kecamatan Pangkur, Ngawi, menyebutkan sudah berbagai upaya untuk mempertahankan sumur bor miliknya tetap mengalir namun apa boleh buat permukaan sumber air menurun secara drastis.

“Padahal sudah saya sambung pipa paralonya hingga mencapai puluhan meter, tetapi tetap saja tidak mengalir,”ungkapnya.

Penyambungan pipa paralon terhadap sumur bor miliknya ini tambahnya terpaksa dihentikan dengan alasan takut terjadi peristiwa seperti di Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren pada awal minggku lalu. Dimana bukanya air yang lancar mengalir melainkan gas yang berbahaya bagi jiwa petani sendiri. (pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda