PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Rabu, 29 Februari 2012

Home > > Tas anyaman plastik dari Ngawi, Tembus pangsa pasar ekspor

Tas anyaman plastik dari Ngawi, Tembus pangsa pasar ekspor

| NGAWI SINAR NGAWI | portal pemberitaan Ngawi|Berita Kabar Warta info NEWS terbaru seputar tentangSiapa sangka, industri rumahan berupa kerajinan tas anyaman dari bahan plastik yang yang kebanyakan dikerjakan oleh ibu-ibu paruh baya, milik Suwardi warga Desa Poh Konyal, Kecamatan Pangkur-Ngawi mampu menembus pangsa pasar ekspor.

“Sejak tahun 2010 anyaman tas berbahan plastik tidak hanya dipasarkan secara domestik melainkan sudah mampu menembus ekspor dengan mendasar pesanan yang ada,” terang Suwardi, Rabu (29/2).

Pemilik usaha Manunggal tersebut mengatakan kendala yang dihadapinya saat ini bahan dasar plastik dimana stok yang ada kurang memenuhi apabila pesanan meningkat. Meskipun demikian kata Suwardi dalam satu bulanya masih mampu memproduksi 15 ribu sampai 20 ribu tas plastik.

“Sangat disayangkan sebenarnya apabila kerajinan anyaman tas ini tersendat gara-gara bahan bakunya, makanya untuk kedepan pihak terkait ikut memikirkan bagaimana solusi agar stok tercukupi,” imbuh Suwardi.

Diakuinya, kerajinan anyaman tas miliknya pada tahun ini sudah mulai membaik pangsa pasarnya seperti di Amerika Serikat, Korea, Malaysia dan Jepang.

Bisnis anyaman tas plastik yang digeluti Suwardi sejak puluhan tahun silam memang baru kali ini omzetnya mencapai ratusan juta.

“Untuk pasar diluar negeri yang paling baik dalam beberapa bulan terakhir adalah Jepang, pihak pengusaha pernik-pernik kerajinan dari negeri sakura tersebut biasanya memesan produk kita secara paket besar,” urai Suwardi.

Sementara harga jual setiap unit tas berbahan plastik untuk pasar domestik atau lokal berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 75 ribu dan untuk pasaran ekspor sudah mampu menembus angka Rp 14 ribu sampai Rp 180 ribu.

Dengan nilai yang cukup fantastis bukan berati Suwardi memiliki ganjalan tidak hanya bahan baku saja namun, pengusaha muda ini juga mengaku kesulitan tenaga kerja.

Biasanya kesulitan tenaga kerja terjadi di saat musim panen tiba. “Biasanya kalau musim panen tiba para pekerja yang notabene warga sekitar bekerja di lahan pertanianya sendiri, dan untuk hari-hari biasa sekitar 15 sampai 20 orang yang bekerja sebagai penganyam disini,”” jelasnya. (pr)

Artikel Terkait



2 komentar:

Dwipa Sahitasarin mengatakan...

waahhh...msk sich itu kan tetangga aku...aku jg gk tau tuch kalo home industri'y smpe tmbus psrn ekspor...negara mana aja tuch yg udah terambah olh indstri ini..??

M Wahid Dimyati mengatakan...

Selamat komoditi ngawi bisa tembus pasar export sukur2 kalau produsen ini seller langsung artinya tidak melalui trader lagi bisa cepet berkembang pak selamat sekali lagi

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda