PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Selasa, 15 Januari 2013

Home > > Bedah Filosofi Diantara Tokoh Wayang Yang Terpajang

Bedah Filosofi Diantara Tokoh Wayang Yang Terpajang

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Konsep penerapan serta penataan pembangunan lingkup Pemkab Ngawi dalam dekade terakhir nampak pemandangan yang berbeda, terutama diarea pusat pemerintahan, Jalan Teuku Umar. Sedikitnya 3 tokoh pewayangan menghias akses keluar-masuk kantor pemerintahan, diantaranya: Nakula, Sadewa dan Kresna.

Bupati Ngawi, Ir Budi Sulistyono menyebutkan, bukan hanya sekedar pajangan untuk melengkapi keindahan kota akan tetapi lebih memperkenalkan sekaligus mengilhami filosofi dari cerita pewayangan itu sendiri.

Tuturnya, dalam memperkuat pondasi terhadap semua sendi-sendi kehidupan manusia perlu menanamkan diri kedalam nilai-nilai universal pada filosofi wayang. Dalam ketokohanya yang tergambar dalam pewayangan, terutama sebagai filsafat karena wayang mengambil ajaran- ajarannya dari sumber sistem-sistem kepercayaan,

Dalam ketauladanan wayang dapat dicerna, sebetulnya manusia sebagai makhluk batas antara kedua kekuatan yang berlawanan (konstruktif dan destruktif), selalu diharapkan kepada suatu pilihan yang sangat dilematis, yaitu konflik dengan dirinya sendiri.

Sehingga sampai pada muaranya, terserah kepada manusia itu sendiri dalam mengambil keputusanya dengan resiko masing-masing.

Dalam menghadapi dualisme sedemikian ini, manusia memerlukan pemimpin yang dianggap bisa membimbing dan menuntunnya menuju jalan yang benar menurut ajaran yang berlaku dan dianutnya.

Selain itu Bupati Ngawi, sangat menilai wayang merupakan bagian dari budaya yang adiluhung untuk dilestarikan keberadaanya modal inilah yang tidak bisa ditawar lagi. Kemampuan manusia untuk mencipta dan berkreasi perlu dukungan dari masyarakat.

Pemerintah memiliki kewajiban sekaligus mengelola manusia dan potensi alam untuk menjadi sumber kebudayaan.

Sementara terkait dengan programnya yang bermotto Ngawi Ramah, pihaknya terus mengimplementasikan dalam melaksanakan kegiatan di semua bidang tanpa terkecuali.

Jelasnya, motto Ngawi Ramah tersebut akan membuat masyarakat merasa nyaman dalam melaksanakan kewajiban sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

Harapanya, pelayanan publik semakin dinamis dan masyarakat bisa menikmati, serta kesejahteraan di segala bidang bisa terwujud. (pr/ksn/ADV)


Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda