PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Kamis, 13 Februari 2014

Home > > Petani Cabai Pilih Panen Dini Guna Hindari Merugi Yang Lebih Besar Lagi

Petani Cabai Pilih Panen Dini Guna Hindari Merugi Yang Lebih Besar Lagi

Petani cabei asal Ngawi lebih memilih panen dini akibat serangan penyakit

NGAWI™ Cuaca ekstrim kawasan Ngawi selatan serta dampak jamuran yang mengakibatkan buah busuk, kian membuat petani cabai resah. Seperti yang dialami petani cabai kawasan Dusun Kawis, Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe terpaksa memilih panen dini guna menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

Suratno (42) dan Arjo Suwito (45) dua warga setempat yang sudah bertahun-tahun sebagai petani cabai mengatakan untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar lagi keduanya lebih memilih melakukan panen sebelum waktunya.

“Gimana lagi kalau dibiarkan sesuai masa panen bisa-bisa malah rugi besar coba lihat sendiri buah cabainya udah pada membusuk, terpaksa dipanen lebih awal meskipun harganya lumayan melorot,” terang Suratno, Kamis (13/02).

Jelasnya, tanaman cabai seluas 1,5 hektar miliknya kini tengah diserang penyakit thirps atau daun keriting semenjak usia tanam 40 hari. Ironisnya, seminggu kemudian penyakit lainya ikut nimbrung meludeskan tanaman cabai miliknya berupa jamur yang membikin pembusukan pada buah cabai.

“Perkiraanya penyakit tersebut menyerang lantaran curah hujan dalam dua minggu terakhir terlalu tinggi, sehingga adanya kelembapan langsung timbul berbagai penyakit itu,” urainya lagi.

Sementara Arjo Suwito sendiri untuk mengantisipasi ancaman penyakit sejak dini sudah dilakukan penyemprotan berbagai macam insektisida namun hasinya tetap nihil.

Dampak datangnya penyakit ini bebernya, telah mengalami kerugian sekitar 20 persen kilogramnya. Dimana cabai jenis TW yang biasa dihargai Rp 19 ribu perkilogramnya kini hanya tembus Rp 15 ribu perkiogramnya.

Untuk cabai jenis keriting yang sebelumnya bisa menembus Rp 30 ribu karena dipanen awal hanya dihargai Rp 25 ribu. Totalnya, karena penyakit kian mengganas sejauh ini mengalami penurunan hasil panen dari 3 ton per musim namun kini cuma berkisar 2,3 ton per hektarnya.

Marsudi Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Ngawi saat dikonfirmasi menyebutkan faktor cuaca bisa saja menimbulkan berbagai penyakit penyerta pada tanaan cabai.
Terangnya, yang biasa sering terjadi pada musim sekarang ini adalah jenis penyakit busuk daun dan buah atau phytophthora spp.

Gejala serangan nampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabai juga dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman.(pr)

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda

 
close
Banner iklan disini