PEMBERITAHUAN KEPADA KHALAYAK UMUM: Berhubung maraknya SMS ataupun Telepon yang mengatasnamakan Blog Media Sinar Ngawi, yang isinya meminta-minta sesuatu, diharapkan untuk lebih waspada dan hati-hati dan tidak menanggapi hal tersebut
Custom Search

Kamis, 29 Mei 2014

Home > > Berawal Dari Pengalaman, Tarno Beternak Semut Jepang

Berawal Dari Pengalaman, Tarno Beternak Semut Jepang

cara beternak semut jepang

NGAWI™ Awalnya, Tarno (65), purna TNI asal Desa Kartoharjo, Kec- Ngawi Kota, menderita reumathik dan berangsur sembuh setelah mengkonsumsi jamu herbal semut jepang dari Pasuruan. Kemudian muncul inisiatif untuk membudidayakan sendiri semut jepang atau polyergus samurai. Diluar dugaan, kini banyak pelanggan yang datang membeli jamu herbal semut jepang.

“Awalnya saya ini sakit reumathik sekitar satu setengah tahun lalu, setelah minum ramuan dari semut jepang ternyata sembuh, makanya dari itu saya mencoba mengembangbiakan semut jenis itu sampai sekarang ini,” kata Tarno, Kamis (29/05).

Lebih jelasnya, saat itu dirinya menderita sakit reumathik setelah diberi ramuan herbal berupa kapsul berisi semut jepang oleh rekanya yang ada di Kota Pasuruan berangsur-angsur sakitnya sembuh total.

Kemudian dia mencoba meminta beberapa puluh ekor semut jepang kepada rekanya tersebut untuk dikembangbiakan dirumahnya. Hanya bermodalkan sekitar 10 stoples plastik, Tarno memeliharanya dirumah hingga berkembang menjadi puluhan ribu semut jepang.

“Setelah jumlahnya lumayan cukup, saya mencoba memberikan tetangga sekitar yang kebetulan sakit, setelah mengkonsumsi beberapa kapsul berisi semut kok pulih kesehatanya,” terangnya lagi.

Dari kabar itulah akhirnya menyebar kebeberapa daerah sekitarnya yang dibuktikan dengan permintaan konsumen yang makin meningkat terhadap kapsul herbal ala Tarno. Sekarang ini Tarno setidaknya bisa menjual setiap kapsul berisi semut jepang seharga Rp 10 ribu.

“Kapsul tersebut memang dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit mulai lemah syahwat, kolestrol, gejala stroke dan reumathik, dan alhamdulilah sekarang ini cukuplah untuk kebutuhan hidup saya dari hasil penjualanya, dan sekarang permintaan sudah mulai dating dari berbagai daerah lainya kok,” ungkap Tarno.

Terangnya, untuk membudidayakan semut jepang bisa dikatakan susah-susah gampang. Dibilang mudah karena hanya membutuhkan media yang cukup sederhana seperti stoples plastic dan kapas dan ragi.

Susahnya, semut jepang tidak mau hidup jika kondisi tempatnya kotor seperti kapas sudah mulai busam serta ragi sebagai ‘pakanan’ semut berkwalitas rendah. “Pakan semut ini diambilkan dari ragi yang berkwalitas baik demikian juga kapasnya tidak mau kotor, kalau dikit saja terlihat hitam maka segera diganti,” pungkasnya.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro



Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda