media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 28 April 2026

Home > > Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Petani Tembakau Ngawi Berpeluang Panen Optimal

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Petani Tembakau Ngawi Berpeluang Panen Optimal

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Petani Tembakau Ngawi Berpeluang Panen Optimal

SN Media™ Ngawi – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terkait musim kemarau 2026 yang datang lebih awal menjadi perhatian sektor pertanian. Kondisi ini diperkirakan mencapai puncak kekeringan pada Agustus dengan intensitas lebih tinggi.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi menilai situasi tersebut membuka peluang bagi komoditas tembakau. Tanaman ini dikenal lebih adaptif terhadap kondisi kering dibandingkan tanaman pangan yang membutuhkan banyak air. 

Kepala DKPP setempat, Supardi, menjelaskan bahwa tembakau memiliki karakter tidak membutuhkan suplai air berlebih. Bahkan, kelebihan air justru dapat memengaruhi kualitas daun serta pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. 

“Pengalaman musim sebelumnya menjadi pembelajaran penting. Pada 2025, kemarau basah berdampak pada hasil tembakau yang kurang optimal, sehingga banyak petani mengalami penurunan produksi,” ujar Supardi, Selasa (28/04/2026). 

Dia juga menjelaskan bahwa dengan proyeksi kemarau yang lebih kering tahun ini, kondisi tersebut dinilai lebih mendukung pertumbuhan tembakau. Peluang peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen pun terbuka lebih lebar dibandingkan tahun lalu. 

Di sisi lain, perhatian juga diarahkan pada petani padi, khususnya di lahan dengan ketersediaan air terbatas. Kondisi kemarau kering berpotensi membuat kebutuhan air tanaman padi tidak tercukupi secara optimal. 

Kembali ditegaskannya, penyesuaian pola tanam menjadi langkah penting. Petani di wilayah minim air perlu mempertimbangkan ulang jadwal tanam atau memilih komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi lahan. 

“Sebagai alternatif, tembakau menjadi salah satu pilihan yang dinilai relevan. Selain lebih tahan terhadap kekeringan, risiko kerugian juga dapat ditekan dibandingkan memaksakan tanam padi di lahan kering,” katanya lagi. 

Pun dinilai dengan langkah tersebut, petani diharapkan lebih fleksibel dalam menentukan komoditas. Perubahan pola musim menjadi sinyal bahwa strategi bertani juga perlu disesuaikan dengan kondisi alam. 

“Fokus pada tembakau sebagai komoditas adaptif sekaligus penyesuaian pola tanam padi di lahan minim air diharapkan mampu menjaga hasil pertanian tetap optimal di tengah kemarau kering tahun ini,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Berita Terkait



0 comments:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda