media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 23 Mei 2026

Home > > Tradisi Menjaga Bulus di Desa Tawun Ngawi Tetap Lestari dari Generasi ke Generasi

Tradisi Menjaga Bulus di Desa Tawun Ngawi Tetap Lestari dari Generasi ke Generasi

Tradisi Menjaga Bulus di Desa Tawun Ngawi Tetap Lestari dari Generasi ke Generasi

SN Media™ Ngawi - Warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, sejak puluhan tahun silam hidup berdampingan dengan ribuan bulus yang tersebar di sungai kecil, selokan hingga saluran irigasi desa tanpa mengalami gangguan berarti dari masyarakat sekitar.

Reptil air tawar tersebut bebas berenang mengikuti aliran air desa. Kondisi lingkungan yang masih resik dan sumber air terus mengalir membuat populasi bulus berkembang apik serta tetap lestari hingga sekarang di tengah permukiman warga. 

Keberadaan bulus di Desa Tawun juga ditopang aliran sumber mata air Sendang Beji yang menjadi habitat alami reptil bercangkang lunak tersebut. Warga pun terbiasa memberi makan menggunakan kerupuk, roti hingga sisa nasi rumah tangga setiap hari. 

Tokoh adat Desa Tawun, Patut, menuturkan bulus sejak dahulu dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat yang wajib dijaga keberadaannya. Keyakinan itu membuat warga terus berupaya melestarikan populasi bulus agar tidak punah dimakan perkembangan zaman. 

“Bulus sudah menjadi bagian kehidupan warga Tawun sejak zaman mbiyen. Masyarakat percaya hewan ini perlu dijaga supaya anak cucu nanti tetap bisa menyaksikan keberadaannya sebagai ciri khas desa,” terang Patut. 

Menurutnya, ribuan bulus yang kini tersebar di berbagai aliran air desa awalnya berasal dari sumber mata air Desa Tawun. Lambat laun populasinya berkembang, kemudian menyebar mengikuti saluran sungai hingga area persawahan warga sekitar. 

Selain faktor lingkungan, kuatnya kepercayaan turun-temurun menjadi alasan masyarakat tetap menjaga keberadaan bulus. Warga meyakini reptil tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal desa sehingga tidak boleh diganggu maupun diambil sembarangan oleh siapa pun. 

Muryani, warga sekitar, mengaku keberadaan bulus sudah ada sejak dirinya masih bocah. Namun demikian, ia tidak mengetahui pasti kapan populasi reptil itu mulai berkembang hingga jumlahnya mencapai ribuan ekor seperti kondisi sekarang ini. 

Menurut Muryani, masyarakat Desa Tawun sejak dulu terbiasa hidup berdampingan dengan bulus layaknya memelihara hewan sendiri. Tidak sedikit warga sengaja datang ke aliran sungai hanya untuk memberi makan reptil air tawar tersebut setiap harinya. 

“Kalau sore biasanya banyak warga memberi makan bulus. Sudah biasa sejak dulu, bahkan masyarakat percaya akan ada kejadian kurang apik apabila membawa bulus keluar dari desa,” ucapnya. 

Hingga kini, bulus masih mudah dijumpai di berbagai sudut Desa Tawun, mulai saluran irigasi, selokan hingga sungai kecil kawasan permukiman. Lingkungan yang tetap terjaga membuat reptil tersebut terus hidup berdampingan bersama masyarakat desa setempat.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok m
*** : ----
Copyright : SNM


Berita Terkait



0 comments:

Posting Komentar

Terima-kasih atas partisipasi anda