SN Media™ Ngawi - Di tengah arus perubahan zaman yang terus bergerak cepat, masyarakat Jawa masih menyimpan berbagai tradisi yang sarat makna dan nilai kehidupan. Salah satunya adalah Udar Gelung, sebuah tradisi yang hingga kini tetap dijaga oleh para pelaku seni tradisi, baik secara perorangan maupun melalui kelompok kesenian dan sanggar budaya.
Udar Gelung lazim dilaksanakan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Bagi masyarakat umum, kegiatan ini mungkin hanya dipahami sebagai sebuah ritual atau pagelaran seni biasa. Namun bagi para seniman tradisi, Udar Gelung memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, keselamatan, dan kesempatan berkarya yang telah diberikan sepanjang tahun.Melalui Udar Gelung, para seniman menunjukkan eksistensi mereka di tengah masyarakat. Kehadiran kelompok seni dalam sebuah pagelaran bukan sekadar menampilkan kemampuan berkesenian, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan dan mempertahankan keberadaan kesenian yang mereka geluti. Harapan yang menyertai kegiatan ini pun sederhana namun sangat penting bagi keberlangsungan hidup para pelaku seni, yakni semakin banyak memperoleh kesempatan pentas atau tanggapan sehingga dapat meningkatkan penghasilan sekaligus kesejahteraan mereka.
Kegiatan ini juga memiliki dimensi reflektif yang tidak kalah penting. Udar Gelung menjadi ruang evaluasi bagi para pelaku seni untuk menilai kembali perjalanan berkesenian mereka. Evaluasi dilakukan ke dalam, menyangkut pengelolaan kelompok, regenerasi anggota, kualitas latihan, hingga penyajian garapan seni yang ditampilkan.
Pada saat yang sama, evaluasi juga diarahkan ke luar, yakni membaca perkembangan pasar dan selera masyarakat yang terus berubah. Kesadaran untuk melakukan evaluasi tersebut menjadi kunci agar kesenian tradisi tetap hidup dan relevan.
Seniman tidak hanya dituntut menjaga pakem dan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur, tetapi juga mampu menghadirkan pertunjukan yang menarik tanpa kehilangan identitasnya. Dengan demikian, tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Pelaksanaan Udar Gelung umumnya diawali dengan selamatan sebagai bentuk doa bersama dan permohonan keselamatan.
Setelah itu dilanjutkan dengan pentas atau pagelaran sesuai bidang kesenian yang ditekuni masing-masing kelompok. Berbagai kesenian tradisional seperti wayang, reyog, tayub, karawitan, jaranan, hingga seni pertunjukan daerah lainnya kerap menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.
Suasana kebersamaan yang tercipta dalam acara ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media mempererat hubungan sosial dan menjaga harmoni kehidupan masyarakat.
Lebih dari sekadar kegiatan berkesenian, Udar Gelung merupakan wujud keteguhan para seniman dalam merawat warisan budaya. Di tengah tantangan modernisasi dan perubahan pola hiburan masyarakat, kegiatan ini menjadi penanda bahwa seni tradisi masih memiliki ruang hidup yang kuat.
Selama masih ada para pelaku seni yang setia menjaga dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, maka nilai-nilai budaya lokal akan tetap tumbuh dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Penulis: Sukadi
Sanggar Budaya Mastuti Budaya dan Sanggar Tari Dabumoyo merupakan salah satu pusat pelestarian seni dan budaya di Ngawi. Sanggar ini aktif mengajarkan tari tradisional, karawitan, dan berbagai kesenian daerah lainnya untuk merawat kearifan lokal serta memperkuat identitas budaya masyarakat.
Editor : ---
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM
0 comments:
Posting Komentar
Terima-kasih atas partisipasi anda