media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label SISI LAIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISI LAIN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2022

Sejumlah Lembaga Dan Organisasi Profesi Di Ngawi Gelar Bukber Bersama Anak Yatim

Buka bersama Anak Yatim

SN-Media™ Ngawi-Dalam rangka meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama, utamanya pada bulan Ramadhan serta sepekan jelang Hari Raya Idul Fitri 1443 H, sejumllah lembaga maupun organisasi profesi di Ngawi menggelar buka bersama anak yatim dan dhuafa.

Bertempat di Kurnia Convention Hall, Faishol, Ketua DPC KAI kab. Ngawi mengatakan bahwa dalam gelar acara bukber bersama anak yatim dan dhuafa adalah agenda rutin tahunan guna meningkatkan solidaritas sosial masyarakat. 

Sementara kegiatan buka bersama, yang diinisiasi oleh DPC KAI (Kongres Advokat Indonesia) Kab.Ngawi, DPD LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) kab. Ngawi serta DPC LPK-RI (Lembaga Pemberdayaan Konsumen RI) kab. Ngawi, juga memberikan santunan dan bingkisan kepada anak yatim dan dhuafa. 

Ditempat yang sama, Ony Anwar Harsono, Bupati Ngawi yang turut menhhadiri acara bukber, sangat mengapresiasi karena kegiatan ini selaras dengan tujuan prioritas pengentasan kemiskinan oleh Pemkab Ngawi, yakni meringankan beban kemiskinan masyarakat, meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengurangi kantong-kantong kemiskinan. 

Pewarta: dAm
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Minggu, 23 Januari 2022

Jaga Supplay-Demand Diposisi Aman, OPD Dan TPID Ngawi Harus Jalin Komintmen

Inflasi di Ngawi

SN-Media™ Ngawi-Menjaga momentum perekonomian yang tumbuh positif, sejumlah langkah diambil untuk mengendalikan inflasi, terutama kendala produksi dan distribusi yang ada di daerah.

Sri Widodo, Kabag Administrasi Perekonomian, Sekretariat Daerah Ngawi mengatakan, guna Menghadapi kemungkinan adanya inflasi, telah dilakukan upaya penyeimbangan antara gas dan rem dalam upaya pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi. 

Tambah Widodo, mendasar data dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah), untuk ketersediaan bahan pokok strategis baik demand dan supply masih dalam posisi aman. 

Memasuki tahun baru 2022, menyusul kenaikan harga komoditas beberapa bahan pokok, telah dilakukan evaluasi terhadap TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) Ngawi, dengan melakukan koordinasi yang lebih baik lagi bersama BI (Bank Indonesia) sebagai tim pembina dalam menggali permasalahan serta isu- isu penting terkait inflasi yang mungkin timbul dari gejolak kenaikan harga kebutuhan barang pokok dan barang penting lainnya. 

“Jadi dengan meningkatkan pemahaman dan komitmen perangkat daerah dengan tim TPID Ngawi, maka pengendalian inflasi di Kabupaten Ngawi bisa terjaga,” kata Sri Widodo. 

Pewarta: TIM
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Minggu, 04 Juli 2021

25 Tahun Mengais Rongsokan, Nenek Sumiati Bisa Berangkat Umroh

Berangkat Umroh

SINAR NGAWI™ Ngawi-Melepas lelah, nenek renta 66 tahun ini menyandarkan sepeda yang keranjangnya sudah penuh dengan barang bekas hasil mengais rongsokan hingga tengah hari, sebelum disetorkan ke pengepul untuk diuangkan.

Adalah Sumiati (66), warga Dusunl Nglencong, Desa Dempel kecamatan Geneng Ngawi, telah 25 tahun menjalani pekerjaan mencari barang bekas. Namun siapa sangka, hanya dengan bermodala barang rongsokan, ternyata telah mampu membawanya menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci. 

“Umrah dua kali, pada tahun 2017 dan tahun 2018 lalu,” kata nenek Sumiati dengan bahasa jawa halus.

Dari hasil yang didapat tiap hari, masih menurutnya, dari setiap hari tidak tentu, kadang Rp.30 ribu, kadang juga bisa sampai Rp.100 ribu. 

Sementara keinginannya untuk berangkat haji, karena kondisi pandemi Covid 19, belum bisa terwujud. 

Nenek yang tinggal seorang diri ini, juga mengharapkan, agar kondisi wabah Corona ini cepat berakhir dan bisa pulih seperti sediakala.  

Pewarta: sAy
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Senin, 07 Juni 2021

Petugas IPJ Yang Bekerja Demi Kemanusiaan Dalam Menangani Jenazah Pasien Covid 19

Kamar jenazah RSUD dr. Soeroto Ngawi

SINAR NGAWI™ Ngawi-Di Balik situasi pandemi yang berkepanjangan hingga saat ini, ternyata ada yang harus rela bekerja demi kemanusiaan, yakni petugas pemulasaraan jenazah korban Covid 19.

Kateni (53), petugas Intalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) RSUD dr Soeroto Ngawi mengatakan bahwa perawatan dan penanganan korban Covid 19, harus sesuai dengan prokes, dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, baik baju hamzat, maksker N92, masker bedah, serta apron. 

“Demi rasa kemanusiaan, kita harus berkerja sesuai aturan yang ditentukan dalam menangani jenazah korban Covid 19, meski kondisi kami panas dan berkeringat serta berpacu dengan waktu yang telah ditentukan” kata dia. 

Dalam melaksanakan tugas, masih menurutnya, untuk menangani jenazah pasien Covid 19 dilakukan harus secara layak sesuai tuntunan agama dan tetap menerapkan norma dan budaya, sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan.

“Dalam setiap tindakan perawatan jenazah korban Covid 19, kita lakukan dokumentasi berupa foto, yang mana bila pihak keluarga menanyakan kesesuaian prosedur, maka kita bisa menunjukan bukti fotonya,” urainya. 

Kateni sendiri telah menekuni profesi kemanusiaan sebagai petugas IPJ tersebut, sudah lebih dari 15 tahun, dan berkat ketekunan dan kesabaran, mulai 2010 yang lalu, dirinya diangkat sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara).  

Pewarta: sAy
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Sabtu, 15 Mei 2021

Jelang Akhir Larangan Mudik, Kios Pedagang Terminal Kertonegoro Ngawi Masih Tutup

Kios Pedagang Terminal Kertonegoro Ngawi Masih Tutup

SINAR NGAWI™ Ngawi-Jelang berakhirnya pembatasan mobilisasi masyarakat mudik lebaran 1442 H, yang diterapkan pada 6-17 Mei 2021, kondisi Terminal Kertonegoro Ngawi belum nampak aktivitas yang signifikan.

Suparmi, pedagang makanan dan minuman yang menempati kios area ruang tunggu penumpang Terminal Kertonegoro, menyampaikan keluh kesahnya, dan berharap pandemi Covid 19 segera berakhir. 

“Semoga saja setelah berakhirnya larangan mudik ini, jumlah penumpang di Terminal Kertonegoro segera normal kembali,” pintanya. Sementara, Hendri Kurnia, penjual tiket juga mengaku peniadaan mudik, berakibat pada penurunan omzet yang drastis, bahkan nyaris tidak ada pemasukan. 

“Meski begitu, sudah ada pemesanan tiket, untuk keberangkatan setelah habis masa larangan mudik , “ terang dia. 

Harapnya, adanya bantuan dari Pemerintah atau aturan mudik yang diperlonggar sehingga pemudik bisa memanfaatkan jasa tiket. 

Terpisah, Ali Imron Hariyadi, Kepala UPT Terminal kertonegoro Ngawi mengatakan bahwa pada peniadaan mudik kali ini, tidak ada pemberangkatan bus dari terminal Kertonegoro, yang ada hanya bus berbarcode khusus yang melintas tanpa berhenti di terminal. 

Aktivitas penjualan tiket tetap dilayani meskipun tidak banyak, serta pelayanan permintaan tes GeNose kepada calon penumpang, berlaku hanya 3 hari secara gratis. 

“Namun demikian pihak Terminal Kertonegoro masih menunggu instruksi dari Pemerintah untuk kelanjutan transportasi di Terminal Kertonegoro selanjutnya,” kata Imron, sapaan akrabnya.  

Pewarta: sAy
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Kamis, 22 April 2021

Tri Rahayu, Driver Ojek Online Yang Mengagumi Perjuangan RA Kartini

Berita Hari Kartini

SINAR NGAWI™ Ngawi-Berkat perjuangan RA. Kartini, maka kesetaraan gender bisa terwujud di Indonesia.Dengan demikian, kesempatan maju dan berkembang bagi kaum perempuan makin terbuka lebar.

Dalam kondisi sulit, akibat krisis kesehatan pada masa pandemi Covid 19, keterpurukan segala lini kehidupan makin terasa, utamanya masalah perekonomian. Beruntung, kini perempuan bisa melakukan pekerjaan dalam membatu perekonomian keluarga. 

Tri Rahayu (35), driver ojol (ojek online) mengatakan, dalam memperingati hari Kartini tahun ini, dirinya menganggap seorang wanita harus bisa bekerja kerja dan mandiri, dan mempunyai kesempatan yang sama seperti pria dan ini adalah hasil dari perjuangan RA Kartini. 

“Tentu ada batasan yang harus kita jalankan guna menjaga harkat dan martabat wanita,” pesan dia. 

Driver ojol yang sering mangkal di gasebo taman pintar Ngawi ini, mengaku dalam kondisi pandemi Covid 19, dirinya mengalami penurunan pendapatan yang drastis. 

“Sebelum terjadi pandemi, perhari bisa mencapai Rp. 300 ribuan, namun saat ini hanya Rp. 100 ribuan saja, namun saya tetap bersyukur,” katanya. 

Disinggung suka duka yang dialami selama menjadi driver ojol, diantaranya pernah mendapat cancel pesanan makanan yang sudah terlanjur dibelinya, untung saja nominalnya tidak banyak dan akhirnya dinikmati sendiri. 

“Sukanya adalah dirinya bersyukur solidaritas di antara sesama driver ojol sangat tinggi, yaitu sering dirinya mendapat bantuan ketika membutuhkan,” pungkasnya.  

Pewarta: sAy
Editor : Kuncoro
Copyright : SNM


Kamis, 04 Juni 2020

Menuju New Normal, Pedagang Dan Pengunjung Pasar Wajib Pakai Face Shield

Pusat  Pemberitaan KODAM  V/BRAWIJAYA

SINAR NGAWI™ Surabaya-Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Widodo Iryansyah dan Kapolda Jatim, Irjen Pol Fadil Imran meninjau kondisi pasar tradisional yang berada di Desa Suci, Kecamatan Manyar. Kabupaten Gresik.

Peninjauan itu, dilakukan dalam rangka monitoring masa transisi dari PSBB menuju tahap new normal.

“Semuanya, baik pedagang ataupun pengunjung, wajib menggunkana face shield,” jelas Kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya, Kolonel Arm Imam Haryadi.

Tambahnya, Penggunaan face shield merupakan salah satu alternatif yang harus diikuti oleh masyarakat selama pemberlakukan new normal mendatang.

Selain meninjau kondisi pasar tradisional, Forkopimda Jatim itu juga menggelar kunjungannya PT KAS, salah satu perusahaan yang memiliki ribuan karyawan.

Tidak hanya itu, selama berada di Kabupaten Gresik, kunjungan juga digelar di salah satu Kampung Tangguh Semeru yang berada di Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo.

“Semuanya terlindungi, sehingga dalam beraktifitas tetap berjalan dan aman,” pungkasnya
Pusat Pemberitaan KODAM V/BRAWIJAYA
Editor: Kuncoro


Senin, 11 Mei 2020

Antisipasi Penyebaran Korona, Ratusan Warga Manukan Kulon Jalani Rapid Test

Lockdown lokal di manukan kulon

SINAR NGAWI™ Surabaya-Adanya sejumlah ODP dan PDP Covid 19, ratusan warga Kelurahan Manukan Kulon Kecamatan Tandes, Surabaya menjalani rapid test yang dilakukan oleh petugas medis Puskesmas setempat.

Dr. Nina, yang berada di lokasi itu mengatakan jika pengecekan itu, wajib diikuti oleh warga.

Di tempat yang sama, Danramil Tandes, Mayor Inf Suwadi mengatakan jika rapid tes itu, merupakan langkah antisipasi untuk melakukan identifikasi awal bagi masyarakat yang berada di lokasi penyebaran Korona.

“Warga harus patuh pada protokol kesehatan, seperti menggunakan masker sampai saling menjaga jarak,” bebernya.

Hasilnya dari tak kurang 180 warga yang dirapid test, tak ditemukan satupun yang terjangkit wabah Korona. Hasil itu, seakan menjadi kepuasan tersendiri bagi petugas medis.

“Kami minta semua warga bisa terus saling menjaga dan mengingatkan. Patuhi aturan-aturan Pemerintah yang sudah diberlakukan,” pungkas Danramil.
Komando Resor Militer 084/Bhaskara Jaya
Editor: Kuncoro



Senin, 19 September 2016

Lima Pemandu Lagu Kafe Karaoke Tak Berizin Diberi Binaan Oleh Petugas

5 Wanita Seksi Yang bekerja sebagai Pemandu Lagu (PL) asal Ngawi Diberi Binaan oleh Polisi

SINAR NGAWI™ Ngawi-Pasca penggerebekan Kafe Karaoke yang disinyalir tak berizin dibilangan Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe beberapa hari lalu (16/09-Red), keberadaan 5 wanita cantik yang berprofesi sebagai Pemandu Lagu (PL), diberi pembinaan di Mapolres Ngawi. Kasat Binmas, AKP Sukisman, menjelaskan hal ini penting, mengingat tempat hiburan yang biasa mereka bekerja belum berizin.

“Kami minta mereka saudara-saudara ini harus berpikir ulang sebagai PL karena apa jangan sampai ada kesan negatif, terlebih mereka kan bekerja di café karaoke belum berizin. Meski demikian kami tetap positif thinking dan mudah-mudahan mereka bekerja sebagai PL professional,” jelas dia.

Sementara, menurut salah satu dari lima wanita Pemandu Lagu ini, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya-Red), mengaku bahwa dirinya nekat menerjuni provesi ini lantaran desakan ekonomi.

“Sebenarnya saya sebagai penyanyi campursari terpaksa cari penghasilan tambahan sebagai PL ini karena masalah ekonomi dimana harus menghidupi dua anak dan dua adik,” singkatnya.

Masih menurutnya, profesinya sebagai PL, dirinya mampu meraup penghasilan sekitar Rp 300 ribu itu pun jika kondisi pengunjung di Kafe Karaoke tersebut ramai.

Sebaliknya, jika sepi memaksa dirinya harus menunggu job manggung sebagai penyanyi campursari.
Pewarta: kun/pr
Editor: Kuncoro


Rabu, 14 September 2016

Puluhan Papan Iklan Kadaluwarsa Ditertibkan Satpol PP

Pol PP Ngawi Tertibkan Puluhan Papan Reklame Kadaluwarsa

SINAR NGAWI™ Ngawi-Puluhan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Ngawi membongkar paksa puluhan papan reklame yang kadaluwarsa perizinannya. Arif Setiyono, Kasi Penegak Perda Satpol PP Ngawi menerangkan bahwa penurunan yang sekaligus penyitaan tersebut, selain untuk menciptakan keindahan lingkungan, juga lantaran papan iklan tersebut rawan roboh karena kondisinya sudah usang

“Papan reklame yang sudah habis masa aktifnya sehingga wajib untuk diturunkan. Jangan sampai tetap terpasang tentunya bisa merusak pemandangan itu sendiri,” terang dia.

Tambahnya, operasi papan reklame untuk mencegah bahayan bagi pengguna jalan terutama menjelang musim penghujan nantinya.

Satu sisi kawasan Karangjati dan sekitarnya merupakan wilayah rawan putting beliung pada saat memasuki pergantian musim.

Namun dilain pihak Arif jelaskan, seharusnya pemilik bertanggungjawab terhadap papan reklame yang notabene sudah usang ini untuk melakukan pembongkaran tanpa harus melibatkan petugas dari Satpol PP.

Pungkasnya, penyitaan tersebut berhasil menurunkan sekitar 10 papan reklame yang jelas tidak tertera masa berlakunya.


Pewarta: kun/pr
Editor: Kuncoro



Selasa, 12 Juli 2016

Masuk Pertengahan 2016, Kasus ODHA bertambah menjadi 39 Penderita

Penderita HIV/AIDS di Ngawi Bertambah menjadi 39 orang

SINAR NGAWI™ Ngawi-Data dari Dinas Kesehatan Ngawi sampai April 2016, ada 39 penderita baru dan ini menambah daftar panjang selama 14 tahun terakhir yang mana dari 283 orang dengan HIV/AIDS (ODHA), 134 diantaranya meninggal. Jaswadi Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes setempat berjanji, bahwa pihaknya terus menambah jumlah personel sebagai tenaga Tes dan Pemeriksaan Sukarela atau VCT.

“Dengan bertambahnya akanpenderita HIV maupun AIDS maka kami akan menambah tenaga tindakan VCT,” ungkap dia.

Masih menurutnya,para personel VCT akan kita sebar ke tempat yang diduga sebagai lokasi penyebaran HIV/AIDS seperti tempat prostitusi maupun tempat hiburan malam.

Tambahnya, dengan adanya tenaga tes dan pemeriksaan sukarela ini lebih mengarah untuk meminimalisir tingkat keparahan penderita.

Apabila sejak dini ditemukan tentunya dapat pengobatan lanjutan untuk mencegah penyakit tersebut masuk kategori AIDS.

Saat ini penderita HIV/AIDS sangat rentan mengarah pada usia 21-35 tahun jumlahnya mencapai 44 persen.
Pewarta: pr
Editor: Kuncoro


Senin, 11 Mei 2015

Jelang Penilaian Wahana Tata Nugraha, Bentor Dan PKL Dilarang Beroperasi

Berita, foto dan video terkini sinar ngawi: Jelang penilaian WTN, Pengelola parkor disepanjang trotoar Ngawi dilarang berkatifitas

SN™ NGAWI-Jelang penilaian Wahana Tata Nugraha (WTN) oleh pusat mulai 24-29 Mei mendatang, pihak Pemkab Ngawi dengan menggandeng petugas Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Satlantas Polres Ngawi, getol lakukan sosialisasi terkait larangan khususnya bagi pengelola parkir maupun pedagang kaki lima yang beroperasi di trotoar, serta bentor yang beraktifitas di jalan nasional maupun jalan provinsi.

“Bagi mereka yang memanfaatkan trotoar atau bahu jalan untuk suatu usaha khususnya jalan Negara dan propinsi dilarang beroperasi,” tegas, Broto Sanjoyo Kasi Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP setempat, (11/05).

Sementara Misri seorang perempuan paruh baya yang keseharianya berprofesi sebagai PKL mangkal di depan Masjid An-Nur Beran dirinya tidak keberatan terhadap penertiban yang dilakukan para petugas.

“Yang namanya penertiban kita harus taat dan pindah ke samping masjid itu hanya saja mungkin agak kuranglah penghasilanya,” singkat Misri.

Dapat disampaikan, penghargaan Wahana Tata Nugraha, adalah penganugerahan atas kemampuan daerah juga peran serta masyarakatnya dalam kinerja operasional sistem transportasi yang tertib, lancar dan aman serta menjamin hak-hak pengguna jalan.

Diharap, kedepan nantinya bisa membentuk masyarakat untuk lebih disiplin berlalu-lintas sehingga dapat menurunkan tingkat kecelakaan.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro


Minggu, 11 Januari 2015

Gendong Cucu, Nenek 60 Tahun Jalan Puluhan Kilo Pungut Rongsok Besi Tua

Rongsokan besi tua di ngawi dan potret kemiskinan

NGAWI™ Sinah, nenek 60 tahun warga desa Soko, kecamatan kedunggalar Ngawi terpaksa harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer guna mengais rejeki dari besi tua yang tercecer. Tak hanya sampai disiitu, sambil terseok menggendong cucunya yang berumur 10 tahun yang belum bisa berjalan lantaran menderita gizi buruk, nenek renta inipun dalam sehari hanya dapat penghasilan tak lebih dari 10 ribu Rupiah.

“Hasilnya buat beli beras dan lauk secukupnya, yang penting cucu saya bisa makan.” katanya sambil menambahkan untuk perkilo besi tua dihargai sekita 2 ribu hingga 3 ribu Rupiah.

Menurut salah satu pekerja Galery kerajinan bonggol jati dikawasan jalan raya Solo Km 12, menuturkan bahwa setiap sepekan sekali Sinah mampir guna mencari paku-paku bekas yang sudah tak terpakai lagi.

“Ya kasihan. Dia kan sudah tua, apalagi cucunya. Dan kalau mampir kesini kalau pas ada paku maupun besi tua pasti saya kasih,” terangnya.

Sementara Saenah hanya menempati rumah ukuran 4 X 6 meter yang beratapkan seng dengan penerangan seadanya yang terletak di belakang rumah warga diantara semak belukar.

“Keadaannya memang memprihatinkan. Tiap hari berjalan sepanjang jalan raya sambil menggendong cucunya yang sakit tak kunjung sembu,” terang tetangga Saenah.
Pewarta: ChUnG
Editor: Kuncoro



Minggu, 09 November 2014

Berawal Mitos Punden Jati Nowong, Masyarakat Krandegan Enggan Tanam Kedelai

berita terkait misteri punden di jawa timur

NGAWI™ Punden “Jati N0wong”. Disinilah asal muasal berkembangnya kepercayaan terhadap pantangan makan makanan berbahan kedelai maupun menanamnya bagi masyarakat Desa Krandegan, Kecamatan Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur. Konon mitos ini diyakini oleh masyarakat sekitar secara turun temurun bahwa bagi siapa saja yang melanggar pantangan tersebut bisa menemui petaka.


Menurut penjelasan Tri Mulyono sesepuh desa setempat sekaligus kepala Desa Krandegan menyebutkan pantangan terhadap kedelai berawal peristiwa yang dialami Syeh Ageng Nawawi di era penjajahan Belanda tempo dulu.

Dijelaskan, Syeh Ageng Nawawi melakukan perjalanan pulang menuju Desa Krandegan dari Kepatihan Gendingan yang berada di wilayah Kecamatan Widodaren sekarang ini. Dengan dikawal seorang cantrik dengan sebutan Ki Suro Dilogo rupanya perjalanan Syeh Ageng Nawawi tersebut diketahui Belanda dan hendak menangkapnya.

Karena keberadaan Syeh Ageng Nawawi selama itu mempunyai pengaruh besar terhadap rakyat disekitar Desa Krandegan maupun sekitarnya. Setelah sampai diwilayah Desa Krandegan kuda yang ditumpangi Syeh Ageng Nawawi ini jatuh ketanah lantaran terjerat akar kedelai pada kakinya. Tidak berapa lama kuda tersebut mati dan Syeh Ageng Nawawi sendiri menyusul meninggal ditempat ditempat yang sama dan langsung dimakamkan.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Syeh Ageng Nawawi mengeluarkan kata-kata sumpah dimana anak turunya yang nantinya tinggal di Desa Krandegan melarang menanam pohon kedelai dan apabila melanggar pastinya akan menerima azab.

“Hingga saat sekarang ini memang tidak berani menanam kedelai maupun makan makanan berbahan kedelai. Soalnya takut terhadap azab oleh Syeh Ageng Nawawi,” terang Tri Mulyono, Minggu (09/11).

Ditambahkan, sang cantrik Ki Suro Dilogo yang menjadi pengawal setia Syeh Ageng Nawawi juga dimakamkan satu lokasi dengan makam Syeh Ageng Nawawi dimana lokasi makam tersebut dijadikan punden atau petilasan dengan nama ‘ Punden Jati Nowong ‘.

Nama Punden Jati Nowong mempunyai makna bahwa Syeh Ageng Nawawi dimakamkan dibawah pohon jati yang besar serta kata ‘Nowong’ dari kata Nawawi karena masyarakat sekitar punden untuk lebih memudahkan mengingat dengan kata nowong.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro



Minggu, 19 Oktober 2014

Tradisi “NGASAK” Selalu Mewarnai Saat Musim Panen Raya Padi Tiba

berita terkait tradisi ngasak di ngawi

NGAWI™ Tiap kali musim panen raya padi tiba, dipastikan ada sisi lain yang menarik untuk dicermati. Yaitu aktifitas yang biasa disebut “Ngasak” (Memungut sisa-sisa hasil panen berupa butiran padi). Satu diantaranya, seperti yang dilakukan oleh Suratmi (55) warga Dusun Kerten, Desa Teguhan, Kecamatan Paron, Ngawi ini dengan telaten memilah limbah jerami guna dapatkan beberapa butir padi,(19/10).

Dengah wajah percaya diri Suratmi memukul-mukulkan jerami dengan sebatang tongkat dari bambu hingga bulir padi yang tersisa jatuh. Dengan modal kesabaran Suratmi mengatakan dalam seminggu sudah mampu mengumpulkan hampir 90 kilogram gabah.

“Kalau dihitung seminggu ini ya banyaklah yang saya kumpulkan,” terang Suratmi.
Kata dia dalam seharinya rata-rata yang dihasilkan berkisar antara 10 kilogram sampai 17 kilogram gabah. Hasil puluhan kilogram tersebut, menurut Suratmi jelas sebanding dengan duduk dibawah terik matahari hingga berjam-jam.

Dengan membawa bekal nasi komplit lauk Suratmi berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB dan baru kembali berkumpul keluarganya lagi pada sore harinya. Dalam sehari dirinya melakukan aktivitas memang tidak satu tempat terpaksa harus pindah-pindah lokasi menyesuaikan sawah yang dipanen bahkan hingga ke lain desa.

Suratmi yang sudah menjadi pengasak hampir tiga tahun ini dalam satu musim panen mampu mengumpulkan hingga 17 sak atau sekitar 6 kwintal lebih gabah. Kalau dibanding dengan petani sendiri bisa ditebak hasil asakanya tersebut jelas lebih untung karena hanya bermodalkan tenaga dan rasa malu.

“Pada awalnya ada rasa gimana gitu pokoke isin (malu-red) dan tidak jarang dibentak oleh si pemilik sawah. Tapi ya gitulah demi hidup karena saya sendiri tidak punya sawah dan harus menghidupi keluarga,” pungkas Suratmi.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro



Rabu, 08 Oktober 2014

Perkawinan Manusia Dengan Peri Penunggu Sendang Terjadi Di Ngawi

berita terkait perkawinan manusia dengan jin atau peri di ngawi

NGAWI™ Aura mistis menyengat tatkala prosesi perkawinan yang dikemas dalam adat Jawa terjadi di Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Bagus Kodok Ibnu Sukodok (63), dengan pasangan beda alam yang diyakini sebagai makluk halus, (Danyang), Roro Peri Setyowati diawali dengan acara siraman sekitar pukul 16.00 WIB yang diteruskan dengan ritual temu pengantin tepat pukul 19.00 WIB, (08/10).


Prosesi pernikakahan tak lazim ini yang konon adalah sebuah kisah perjalanan mistis merupakan sebuah karya seni kontemporer happening art. Menurut tuan rumah acara ini digelar, Bramantyo Prijosusilo, menjelaskan bahwa pada dasarnya karya seni bisa menciptakan kanvas panggung yang sekaligus menyatukan alam beda dimensi dan tak terikat oleh ruang dan waktu.

Singkat ceritanya yang konon merupakan kisah nyata, saat itu Bagus Kodok Ibnu Sukodok asal Solo Jawa Tengah yang mempunyai nama asli Prawoto Mangun Baskoro tengah berkunjung ke Alas Ketonggo masuk wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi. Ditengah kunjunganya inilah Bagus Kodok melihat ada sungai didalam hutan yang mengalir dengan air jernih, tanpa disadari dirinya ingin buang hajat.

Selang beberapa waktu kemudian dirinya bermimpi ketemu dengan Peri Roro Setyowati yang tidak lain seorang Dhanyang yang menjaga Sendang Marga di wilayah Alas Begal, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi.

Dalam alam mimpinya Bagus Kodok mengetahui kalau Peri Roro Setyowati sedang mencari bantuan ke Alas Ketonggo lantaran wilayahnya di Alas Marga dirusak oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Dari komunikasi keduanya inilah terjalin rasa saling mencintai.

Meski berbeda alam keduanya memiliki sifat yang sama yakni selalu perhatian dan keprihatinan terhadap alam raya dan budaya manusia khususnya di tanah Jawa.

Sementara dapat diberitakan pula, Sisi keunikan lainya perkawinan dua insan beda alam ini dijaga ketat oleh puluhan aparat kepolisian dari Polres Ngawi ditambah Bantuan Serba Guna (Banser) dari Anshor.

Sore hingga malam dilokasi perkawinan makin marak meskipun pengantin putri tidak bisa dilihat dengan kasat mata malah terkesan mampu menghipnotis ribuan warga.

Hal ini dibuktikan sejak sore ribuan warga dari daerah sekitar maupun luar wilayah Ngawi sudah memadati lokasi perkawinan di rumah tua demikian juga terlihat puluhan turis asing menjadi saksi mata perkawinan dua alam ini.
Pewarta: Purwanto
Editor: Kuncoro



Minggu, 06 Januari 2013

Dagangan Tak Laku, Pedagang Rambutan Hanya Bisa Pasrah

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Sejak musim buah rambutan pada awal tahun ini, para pedagang justru mengeluh lantaran omzetnya turun drastis hingga 50%. Hal senada juga dituturkan oleh Painem (45), warga Desa Kletekan, Kecamatan Jogorogo, dirinya mengaku hanya bisa menghabiskan seperempatnya saja dari buah rambutan dagangannya.

“Kalau pas musim rambutan disaat cuaca terang tidak hujan kayak gini tentunya saya bisa menjual lebih dari 2 kwintal buah rambutan,” keluh Painem,6/1).

Namun semenjak satu minggu dirinya berjualan di pasar Jogorogo tersebut rata-rata perharinya cuma bisa menjual 1 kwintal dengan harga Rp 5 ribu per kilogramnya.

Bebernya, dengan kondisi hujan yang terus mengguyur diwilayahnya otomatis pembeli enggan membeli daganganya.

Imbuhnya, Painem mulai berjualan mulai pagi hingga petang untuk bisa menjual buah rambutanya.

Nasib serupa juga dialami Ngatini (40) dirinya mengaku akan mengalami kebangkrutan kalau saja kondisi cuaca tidak bersahabat.

“Buah rambutan ini kan tidak bisa bertahan lama, misalkan kalau tidak laku sehari saja boleh jadi membusuk, “ terang Ngatini. (pr)

Minggu, 21 Oktober 2012

Fenomena Dalam Pesta Demokrasi Kuburan

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |KLITIK™ Tak jarang mendengar kata kuburan saja sudah mengudang bulu kuduk berdiri. Apalagi harus rela berlama-lama dilokasi tersebut. Namun hal ini tak berlaku bagi 2 warga Desa Klitik, Kecamatan Geneng Ngawi, yang justru berebut ingin menjadi orang nomor 1 dilingkup kuburan seperti yang terjadi hari ini (21/10).

Pemungutan suara dalam memperebutkan kedudukan sebagai penjaga kubur atau yang lumrah disebut POLO KUBUR, mungkin ini baru kali pertama terjadi dalam sepanjang sejarah pesta demokrasi. Situasi aman dan kondusif, saling menghormati antar calon perebut kursi itulah kondisi yang terjadi secara sebenarnya saat proses pemilihan yang di ikuti 2 calon kandidat.

Nomor urut 1 yakni Siban, 70 th, dan nomor urut 2 Moch Kasim, 65 th, dari kedua calon ini Mbah Siban (Siban-red) selaku calon incumbent sempat diunggulkan diberbagai kawasan Desa Klitik. Kasak kusuk tersebut mulai didengar dari warung kopi hingga tempat tongkrongan masyarakat sekitarnya apalagi ahli waris dari kuburan yang dijaga Mbah Siban ini tetap memilih calon incumbent.

Kemudian sekitar pukul 08.00 WIB pemungutan suara dimulai dengan DPT 709, satu persatu masyarakat terlihat antusias untuk memberikan hak suaranya. Dan mencapai pucaknya pukul 12.00 WIB pemungutan suara ditutup dan dimulai penghitungan suara.
Lembaran surat suara selayaknya pemilihan kepala daerah maupun legislative dibuka satu persatu, gambar kedua calon terpampang. Hasilnya, sesuai prediksi sebelumnya Mbah Siban meraih 273 suara disusul Moch Kasim mendapatkan 208 suara.

Pemilihan yang unik ini akhirnya Mbah Siban berhak menduduki kursi “Polo Kubur” periode 2012-2018 sesuai SK yang langsung diberikan oleh kepala desa setempat tanpa melewati pelantikan.

Menurut ketua panitia pemilihan penjaga kubur, Bambang Sri, moment tersebut bukan sekedar pemilihan seperti yang biasa dilakukan masyarakat. “Pemilihan ini bentuk pembelajaran terhadap demokrasi di negeri ini, tanpa uang tok pun masyarakat ternyata antusias memilih, sehingga pengalaman dari pemilihan yang sangat sederhana menjadikan pembelajaran politik kepada semua pihak,” terang Bambang Sri. (pr)

Senin, 01 Oktober 2012

Tabir Kelam Para Wajib Lapor Eks Tahanan Politik G30S/PKI

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |NGAWI™ Buku bersampul merah tersebut berisi nama sekaligus foto yang dinyatakan hak berpolitiknya dicabut. Salah satunya di Desa Teguhan, Kecamatan Paron, sedikitnya ada 74 orang warga yang dikenai Wajib Lapor (WL) Pada era Orde Baru karena menyandang status bekas tahanan yang terlibat dalam gerakan G.30.S/PKI.

Sambil membuka halaman demi halaman buku merah tersebut Sukamto, perangkat desa setempat menjelaskan, bahwa yang beralamat jelas cuma 46 orang. “Dari 46 orang ini hingga sekarang yang masih hidup tinggal 36 orang,” urainya. Ketika ditanya lebih mendalam apakah mereka merupakan tokoh PKI di desanya, Sukamto, yang sudah menjabat sebagai perangkat desa sejak 1982 lalu tidak mengetahui secara persisnya.

“Hanya yang saya ingat ada lima orang warga desa sini yang di ambil oleh pemerintah waktu itu dan sampai sekarang tidak jelas nasibnya,” beber Sukamto. Selain itu, Sukamto, mengatakan, untuk saat ini dirinya membuka buku merah tersebut ketika ada warganya yang mau mendaftarkan diri sebagai PNS atau lainya.

Keterangan perangkat desa satu ini menjadi pertanyaan besar, karena ketika pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah muncul keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sesuai pasal 60 huruf g UU No. 12/2003. Dimana mereka yang dituduhkan terlibat pergerakan PKI dikembalikan hak konstitusionalnya.

Berkenaan dengan keputusan MK itu, berarti tidak ada lagi undang-undang yang melarang para tahanan politik, termasuk yang terkait dengan PKI untuk dipilih dalam pemilu. Atas pencabutan tersebut, kini bekas anggota PKI boleh berbangga hati karena haknya disamakan dengan warga negara yang lainnya. Hal ini berarti memberi kepastian hukum bagi warga negara yang selama ini haknya digantung dan diperlakukan secara diskriminatif, yakni bagi bekas anggota PKI dan keluarganya. (pr)


Minggu, 22 Juli 2012

Gepeng Dan Anjal Kian Marak, Pemkab Ngawi Cuek

| SINAR NGAWI™ | portal pemberitaan Ngawi| Berita | Kabar | Warta | info | NEWS | terbaru | terkini | hari ini | LPSE NGAWI |KOTA ™ Keberadaan Gepeng serta para Anjal (anak-anak jalanan) di Ngawi, masuk bulan Ramadan ini nampak makin meningkat. Beberapa tempat setrategis menjadi pilihan mereka mangkal, seperti pasar, lampu merah serta alun-alun merdeka. Lokasi sekitar Masjid Baiturahman pun juga tak luput dijadikan ajang mencari sedekah.

Beberapa pihak menyesalkan keberadaan mereka (Anjal dan Gepeng-Red) yang terkesan dibiarkan pihak-pihak terkait. Hal ini terbukti, mereka bebas beroperasi ditempat –tempat strategis yang justru tak jauh dari kantor Pemkab setempat.

Ada dugaan, terutama keberadaan para gepeng di bawah umur tersebut dikoordinir oleh oknum tertentu yang mau ambil untung dari keringat mereka. Umumnya mereka mengaku dari daerah luar Ngawi seperti Nganjuk dan Sragen. "Mungkin mereka memanfaatkan momen tahunan ini” jelas narso yang kesehariannya buka lapak dibilangan alun-alun.

Sementara itu, Kasi Ops Satpol PP Kabupaten Ngawi, Peggy Yudo, mengatakan, jumlah gepeng di wilayah Ngawi secara umum pada bulan Ramadan ini mulai menunjukkan grafik penurunan, namun demikian pihaknya akan terus memantau keberadaanya dan akan melakukan penindakan.

“Kami dalam waktu dekat ini akan melakukan koordinasi dengan Polres Ngawi, untuk melakukan langkah langkah seandainya kita lakukan razia nanti,” ujarnya. Selain gepeng dan anjal, Peggy Yudo dan jajarannya tetap menggencarkan razia terhadap penyakit masyarakat lainya seperti para PSK dan tempat-tempat prostitusi terselubung. “Pokoknya kami konsisten dengan aturan yang ada sesuai perda,”tegasnya. (pr)