media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Jagat Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jagat Hiburan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2025

Pendar Menjadi Cerita Kembalinya Much Usai Jeda Panjang Bermusik

Pendar Menjadi Cerita Kembalinya Much Usai Jeda Panjang Bermusik

SN-Media™ Jakarta – Setelah lima tahun tanpa rilisan anyar, band alternatif asal Malang, Much, kembali menyapa pendengar melalui single terbaru bertajuk Pendar, menandai babak baru perjalanan mereka menjelang satu dekade bermusik.

Kehadiran Pendar menjadi penegasan eksistensi Much di tahun 2025, sekaligus menandai kembalinya mereka ke ruang kreatif setelah jeda panjang dari aktivitas perilisan karya. 

Single ini juga menjadi tonggak penting lantaran Pendar merupakan lagu pertama Much yang dibawakan sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, lahir dari dorongan spontan yang berkembang menjadi medium ekspresi personal. 

Inspirasi lagu tersebut berangkat dari pengalaman sederhana yang kerap dialami personel Much usai tampil, ketika sorot lampu jalan dan kendaraan malam hari memantul tajam di mata. Pengalaman itu kemudian dimaknai lebih dalam sebagai simbol momen hidup yang hadir singkat, menyilaukan, lalu berlalu tanpa aba-aba, meninggalkan kesan nostalgik sekaligus melankolis. 

“Pendar berangkat dari pengalaman sederhana yang kerap kami alami selepas manggung. Sorot lampu jalan yang menyilaukan mata itu kami maknai sebagai potongan momen hidup, datang singkat lalu menghilang,” ujar Much. 

Nuansa reflektif tersebut dibalut dengan aransemen pop ringan khas Much, membuat Pendar terasa hangat, mudah dicerna, namun tetap menyimpan lapisan emosi yang mengajak pendengar berhenti sejenak. 

Much mengakui, kembali merilis karya setelah lima tahun vakum sekaligus membawakan lagu berbahasa Indonesia menghadirkan penyesuaian tersendiri dalam proses kreatif maupun penampilan panggung. 

Meski sempat muncul rasa canggung, respons positif penonton saat Pendar dibawakan dalam sejumlah sesi penampilan langsung perlahan mengikis keraguan tersebut. 

Band yang digawangi Dandy Gilang pada gitar dan vokal, Anggi pada vokal, Risang pada gitar, Vino pada bass, serta Pandu pada drum ini memilih Guerilla Records sebagai mitra perilisan digital. 

Label asal Jakarta tersebut dikenal memiliki kedekatan emosional dengan Much sejak awal perjalanan bermusik mereka di ranah independen. Single Pendar telah resmi dirilis dan dapat dinikmati melalui berbagai layanan streaming digital sejak 19 Desember 2025, menjadi penanda langkah baru Much ke depan.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: ***/Alfan
Editor : Asy
Foto/iLst : By Magesta Putra J
*** : ----
Copyright : SNM


Sabtu, 23 Agustus 2025

Menakar Bahagia, Lagu Freaksi Tentang Resah Hidup Sehari-Hari

Menakar Bahagia, Lagu Freaksi Tentang Resah Hidup Sehari-Hari

SN-Media™ Malang – Dari kota Malang hadir sebuah kabar dari ranah musik alternatif, di mana band Freaksi kembali menorehkan karya baru yang sarat makna. Lahir dari sebuah unit kegiatan mahasiswa kampus UIN, yakni KOMMUST, kelompok musik ini merilis single teranyar bertajuk “Menakar Bahagia”. Sebuah lagu yang ditulis dari keresahan sehari-hari, mewakili kebingungan banyak anak muda dalam menghadapi fase hidup penuh ketidakpastian.

Sejak dideklarasikan dua tahun silam, Freaksi beranggotakan Hanif (bass vokal), Haikal (gitar vokal), Yusron (gitar), serta Naufal (drum). Pertengahan tahun 2025 ini, mereka meneguhkan eksistensi dengan karya mandiri. Sebelumnya, dua lagu mereka “’Kan Terus Ada” dan “Pola Berulang” sempat masuk album kompilasi garapan UKM KOMMUST, bertajuk “INFINITE” serta “Resonance Route”. 

Namun kini, “Menakar Bahagia” menjadi karya yang mereka distribusikan secara independen. Single ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang yang berada di fase remaja menuju usia 20 hingga 30-an. Kekhawatiran hidup yang seakan stagnan, kebingungan soal masa depan, dan rasa tertinggal dibanding orang lain menjadi benang merah dari lirik yang mereka angkat. 

Meski sederhana, lagu ini diyakini dekat dengan kehidupan banyak pendengar. Haikal, sang gitaris, mengungkapkan bahwa proses kreatif lahir di tengah rutinitas yang padat. “Kita berjalan apa adanya di sela kesibukan masing-masing. Kadang mood juga menentukan. Tapi kalau menunggu sempurna, karya tak akan lahir. Justru dari keterbatasan itu kita menemukan jalannya,” ujarnya. 

Naufal, drummer sekaligus personel paling senior, menambahkan bahwa lagu ini lahir dari kombinasi ide antaranggota. “Awalnya Hanif dan Haikal lempar riff gitar dan potongan lirik. Aku ikut memperkuat dari sisi lirik, karena cukup mewakili usiaku sekarang. Instrumen kami garap bersama lewat sesi jamming, lalu saling memberi masukan,” jelasnya. 

Sementara Hanif, yang menulis sebagian besar lirik, menyebut lagu ini sebagai refleksi kejujuran. “Rasa bingung soal arah hidup, perasaan tertinggal, bahkan membandingkan diri dengan orang lain itu nyata. Semua remaja atau dewasa muda pasti melewati fase ini. Aku coba menuangkannya sejujur mungkin sesuai yang kurasakan,” tuturnya. 

Tak hanya berhenti pada musik, Freaksi turut menggandeng seniman muda Rainysm alias Hafiz Bagas Riantama untuk menerjemahkan pesan lagu ke dalam ilustrasi visual. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Hasnan Thoriq, yang memberi sentuhan akhir agar karya terdengar lebih matang. 

Kini “Menakar Bahagia” sudah dapat didengar di berbagai platform digital. Freaksi berharap lagu ini mampu menemani pendengar yang tengah menata hati dan pikirannya dalam menjalani hidup, serta menjadi pengingat bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News 

Press release
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : -----
Copyright : SNM


Minggu, 17 Agustus 2025

Setelah Dua Dekade Vakum, Kastil Kembali Perkuat Skena Metal Nasional

Setelah Dua Dekade Vakum, Kastil Kembali Perkuat Skena Metal Nasional

SN-Media™ Malang – Setelah dua dekade lebih tak terdengar kabarnya, unit metal legendaris asal Malang, Kastil, resmi menandai kebangkitannya melalui perilisan mini album (EP) bertajuk “Shadows”. Kehadiran kembali grup ini bukan sekadar reuni personel lama dan baru, melainkan sebuah penegasan identitas serta tekad untuk membuka babak baru perjalanan musikal mereka. Formasi anyar, warna musik yang kian matang, serta visi yang lebih jelas menjadikan karya ini sebagai momentum penting dalam dunia musik ekstrem tanah air.

Kastil lahir pada 1998 dan mulai dikenal lewat album perdana Metamorfosis Carnivoraous (1999). Namun, sejak 2001 mereka memilih berhenti berkarya. Kini, hanya Ekomata (gitar) yang masih bertahan dari generasi awal. Ia lalu merangkul tiga sosok yang telah lama malang melintang di skena ekstrem Malang: Djo Asmoro (vokal, Fallen To Pieces), Adi Rakasiwi (drum, Vinogi/Jecovox), dan Harry Gowank (bass, Rottenomicon/Screaming Factor). Meski sempat tergoda untuk mengganti nama, akhirnya mereka sepakat bahwa Kastil bukan sekadar label band, melainkan wadah ekspresi dan identitas batin yang tak tergantikan. 

Proses kreatif EP Shadows lahir dari nol, berawal dari potongan riff sederhana yang direkam di ponsel. Lirik-liriknya mengupas tema eksistensial: sisi naluriah manusia yang kerap ditekan, tetapi justru menjadi kunci menemukan jati diri. “Kami akhirnya melihat bahwa dunia tak melulu hitam putih. Ada banyak dimensi yang kemudian kami tuangkan ke dalam karya ini,” ungkap Ekomata. 

Secara musikal, Shadows memadukan unsur Modern Thrash Metal, Modern Hardcore, Swedish Death Metal, hingga Stoner Metal. Meski mendapat pengaruh dari band internasional seperti Carcass, In Flames, Metallica, Turnstile, dan Comeback Kid, Kastil tetap memberi ruang bebas bagi tiap personel untuk menyumbangkan ide tanpa batas. EP ini berisi empat nomor yang membentuk alur emosional. “Awakening” membuka perjalanan batin, diikuti “Frantic” yang menggambarkan kegelisahan. 

Lagu utama “Shadows” menjadi titik temu dengan kegelapan yang akhirnya diterima, sebelum ditutup “Animal Instinct” sebagai simbol pelepasan naluri liar yang selama ini ditekan. Menurut Ekomata, justru Animal Instinct adalah lagu yang paling mencerminkan jati diri Kastil masa kini. Bangkit kembali setelah 24 tahun tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Jika dahulu distribusi fisik menjadi hambatan, kini teknologi digital menjadi jalan pembuka. 

“Sekarang semua lebih mudah, dari rekaman, desain, sampai distribusi. Itu pula yang mendorong kami bangkit,” imbuhnya. 

EP Shadows ini dirilis sebagai pintu menuju album penuh yang sedang digarap. Kastil juga berencana menggelar panggung comeback mulai Agustus serta tur pada Oktober 2025. Dengan karya terbaru ini, Kastil seolah ingin menyampaikan pesan bahwa gelap tak selalu menyesatkan, justru dari bayangan, manusia bisa menemukan cahaya yang sejati.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

pers rilis
Editor : Asy
Foto : Dok
*** : ----
Copyright : SNM