media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label serba - serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba - serbi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2026

Tiga Poktan di Ngawi Dapat Combine Harvester, Kanang Tekankan Pengelolaan Bersama

Tiga Poktan di Ngawi Dapat Combine Harvester, Kanang Tekankan Pengelolaan Bersama

SN Media™ Ngawi – Tiga kelompok tani di Kabupaten Ngawi menerima bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa combine harvester dalam kegiatan reses dan penyerapan aspirasi anggota Komisi VI DPR RI, Ir Budi Sulistyono Kanang, Selasa (11/08/2026).

Penyerahan tiga unit mesin panen tersebut berlangsung di Kecamatan Kwadungan. Bantuan diterima langsung oleh ketua masing-masing kelompok tani yang selama ini menjadi penggerak kegiatan pertanian di wilayahnya. 

Tiga penerima bantuan itu yakni Kelompok Tani Ingasrejo, Desa Beran, Kecamatan Ngawi; Kelompok Tani Sri Makmur, Desa Purwosari, Kecamatan Pangkur; serta Kelompok Tani Sri Agung, Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas. 

Bantuan combine harvester tersebut diharapkan dapat membantu kelompok tani menghadapi persoalan tenaga kerja yang kerap muncul ketika memasuki masa panen. Terlebih, waktu panen sejumlah lahan biasanya berlangsung hampir bersamaan. 

“Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar kegiatan panen tidak mengalami keterlambatan,” kata Kanang. 

Menurut dia, keberadaan mesin panen menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pekerjaan di lapangan. Dengan penggunaan alat tersebut, kelompok tani memiliki sarana yang dapat mendukung efisiensi waktu sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jumlah tenaga kerja manual saat panen berlangsung.

Meski demikian, Kanang meminta bantuan alsintan itu tidak hanya dimanfaatkan oleh sebagian anggota. Pengelolaannya perlu dilakukan secara kolektif agar keberadaan combine harvester benar-benar memberi manfaat bagi seluruh anggota kelompok tani. 

Selain penggunaan secara bersama, perawatan mesin juga menjadi perhatian. Kondisi alsintan harus dijaga supaya tetap siap digunakan ketika musim panen tiba. Pemeliharaan yang rutin dinilai penting agar usia pakai alat dapat lebih panjang dan biaya perbaikan tidak membebani kelompok. 

Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu menegaskan, bantuan tersebut harus dipandang sebagai sarana penunjang produktivitas, bukan sekadar tambahan peralatan kelompok. Karena itu, pengurus diminta menyusun pola pemanfaatan yang jelas dan adil. 

Ia menilai pengelolaan yang tertib akan memudahkan kelompok mengatur jadwal penggunaan alat, khususnya saat permintaan meningkat dan beberapa wilayah memasuki panen pada periode berdekatan. Dengan demikian, pemanfaatannya berlangsung bergiliran tanpa menimbulkan persoalan antaranggota kelompok. 

Kanang berharap bantuan combine harvester dapat memperkuat kemampuan kelompok tani dalam menghadapi musim panen, sekaligus membantu menjaga kelancaran pekerjaan pertanian di Kabupaten Ngawi. 

“Alat ini harus dirawat dengan baik dan digunakan bersama sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan seluruh anggota kelompok,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok internal
*** : ----
Copyright : SNM


Sabtu, 08 Agustus 2026

Musim Kemarau di Ngawi Tak Hanya Picu Kekeringan, 66 Kebakaran Tercatat hingga Juli

Musim Kemarau di Ngawi Tak Hanya Picu Kekeringan, 66 Kebakaran Tercatat hingga Juli

SN Media™ Ngawi - Musim kemarau tidak hanya membawa persoalan kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah daerah Kabupaten Ngawi. Suhu udara yang tinggi serta vegetasi mengering turut meningkatkan risiko munculnya api, terutama di kawasan permukiman dan lahan terbuka.

Hingga akhir Juli 2026, Satpol PP Ngawi melalui Bidang Kebakaran dan Penyelamatan mencatat 66 peristiwa kebakaran. Insiden tersebut menyebabkan kerugian material sekitar Rp1,1 miliar, dengan berbagai objek terdampak mulai bangunan hingga lahan. 

Kabid Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Ngawi, Ismail Munaroh Roy Adhi, menyebut kasus yang ditangani petugas cukup beragam. Rinciannya meliputi rumah dan dapur sebanyak 16 peristiwa, kompor gas dua kasus, kandang ayam empat kasus, serta lahan sebanyak 22 kasus. 

“Selebihnya terjadi pada pabrik dan kendaraan. Total sampai Juli ada 66 kasus dengan nilai kerugian material sekitar Rp1,1 miliar,” kata Ismail. Menurutnya, sebagian besar insiden dipicu kelalaian manusia. 

Beberapa di antaranya berkaitan dengan korsleting listrik dan aktivitas membakar sampah tanpa pengawasan. Api yang semula kecil dapat dengan cepat menjalar ketika berhadapan dengan rerumputan atau material kering.

Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat sebelum meninggalkan rumah, terutama dengan memastikan instalasi listrik dan peralatan yang menggunakan sumber api telah dalam keadaan aman. Aktivitas pembakaran sampah juga perlu diawasi sampai bara benar-benar padam. 

Kewaspadaan menjadi semakin penting lantaran kondisi panas dan minimnya kelembapan membuat material di sekitar permukiman maupun lahan terbuka lebih mudah tersulut. Penanganan sejak awal dinilai dapat mencegah api meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar. 

Frekuensi laporan yang masuk juga cukup tinggi. Dalam satu hari, petugas bahkan pernah menerima hingga lima laporan dari lokasi berbeda. Situasi tersebut menunjukkan kebutuhan dukungan operasional yang sebanding dengan luas geografis Ngawi. 

Saat ini, Bidang Kebakaran dan Penyelamatan mengandalkan tiga truk tangki serta satu kendaraan penyelamatan. Beberapa perlengkapan, termasuk selang pemadam, mulai membutuhkan perawatan karena kondisinya tidak lagi optimal untuk menunjang tugas lapangan. 

Selain peralatan, penambahan personel juga dipandang penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, khususnya ketika beberapa laporan muncul dalam waktu berdekatan. 

“Yang menjadi kendala di lapangan memang perlengkapan masih terbatas dan ada yang perlu dipelihara. Dengan luasnya Ngawi serta frekuensi laporan yang cukup tinggi, dukungan peralatan dan SDM perlu diperkuat,” ujar dia.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Jumat, 07 Agustus 2026

BPBD Ngawi Perbarui Data Kekeringan, Delapan Desa Kini Masuk Wilayah Terdampak

BPBD Ngawi Perbarui Data Kekeringan, Delapan Desa Kini Masuk Wilayah Terdampak

SN Media™ Ngawi - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi mencatat delapan desa kini mengalami krisis air bersih akibat meluasnya dampak musim kemarau. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan air bersih terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi, Partoyo, mengatakan jumlah desa terdampak bertambah dibandingkan kondisi sebelumnya. Semula hanya enam desa di empat kecamatan yang membutuhkan bantuan air bersih, kini meningkat menjadi delapan desa yang tersebar di empat kecamatan. 

"Perkembangan musim kemarau membuat kebutuhan air bersih semakin meningkat. Saat ini ada dua desa tambahan yang mulai mengajukan bantuan sehingga distribusi air juga kami tingkatkan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ujar Partoyo. 

Dua desa yang baru masuk dalam daftar wilayah terdampak yakni Desa Suruh dan Desa Bringin di Kecamatan Bringin. Dari dua desa tersebut tercatat sebanyak 174 kepala keluarga mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat berkurangnya sumber air di lingkungan mereka.

Sementara itu, enam desa yang lebih dahulu menerima bantuan tersebar di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Bringin terdapat Dusun Gagan, Desa Kenongorejo yang mencakup dua RT dengan total 54 kepala keluarga. Kemudian di Kecamatan Pitu terdapat Dusun Kali Gedhe, Desa Ngancar yang terdampak pada dua RT atau 57 kepala keluarga, serta Dusun Ngerowo, Desa Cantel yang dihuni 30 kepala keluarga. 

Wilayah lain yang juga masih menerima distribusi air bersih yakni Dusun Sumberan, Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman dengan 26 kepala keluarga terdampak. Selain itu, Kecamatan Ngawi mencatat dua lokasi yang mengalami kondisi serupa, yaitu Dusun Tambakselo, Desa Banyuurip dan Dusun Gandu, Desa Karangtengah Prandon dengan total sekitar 20 kepala keluarga yang membutuhkan pasokan air bersih. 

BPBD Ngawi terus mengirimkan air bersih secara bertahap ke seluruh titik terdampak sesuai kebutuhan di lapangan. Distribusi dilakukan menggunakan armada tangki air dan disesuaikan dengan permintaan pemerintah desa maupun hasil asesmen petugas. 

Dia menambahkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan PMI, TNI, Polri, serta organisasi perangkat daerah terkait agar penanganan krisis air bersih berjalan optimal. "Selama masih ada warga yang membutuhkan air bersih, distribusi akan terus kami lakukan sesuai kondisi di lapangan," pungkas Partoyo. 

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Jumat, 31 Juli 2026

Dampak Kemarau Mulai Terasa di Ngawi, Warga Kiyonten Andalkan Air dari Dasar Sungai

Dampak Kemarau Mulai Terasa di Ngawi, Warga Kiyonten Andalkan Air dari Dasar Sungai

SN Media™ Ngawi - Sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi mulai terdampak kekeringan akibat musim kemarau, salah satunya Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman. Selama sebulan terakhir, lebih dari 10 kepala keluarga mengalami krisis air bersih setelah sumur-sumur mereka mengering dan tidak lagi dapat digunakan.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga terpaksa mencari sumber air alternatif. Sebagian memilih menggali lubang di dasar sungai untuk memperoleh rembesan air, sementara lainnya mengambil air dari sendang yang berada di kawasan hutan karena menjadi sumber air yang masih tersedia. Air yang diperoleh dari dasar sungai umumnya tampak keruh. 

Meski demikian, warga tetap memanfaatkannya karena tidak memiliki pilihan lain. Setibanya di rumah, air tersebut terlebih dahulu diendapkan dan disaring sebelum digunakan untuk minum, memasak, mandi, maupun mencuci. 

Salah seorang warga, Sutini, mengatakan kesulitan memperoleh air bersih sudah berlangsung sekitar satu bulan. Menurutnya, seluruh sumur di sekitar permukiman telah mengering sehingga warga bergantung pada rembesan air di dasar sungai.

"Sampai rumah nanti disaring karena kotor. Sudah sebulan ini sulit air," ujar Sutini.

Selain menggali dasar sungai, sebagian warga juga mengambil air dari sendang yang berada di tengah hutan. Mereka rela menempuh jarak lebih jauh agar kebutuhan air keluarga tetap terpenuhi. Hingga kini, warga mengaku belum menerima bantuan air bersih sehingga harus bertahan dengan sumber air yang ada. 

Menanggapi kondisi tersebut, Camat Kasreman Shodiq Jumari Effendy mengatakan pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan instansi terkait. Permintaan bantuan tandon air telah diajukan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Ngawi untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga. 

Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau. Salah satunya melalui usulan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) oleh DPRKP. 

"Kami sudah mengajukan permintaan tandon air kepada BPBD dan DPRKP untuk membantu kebutuhan air bersih warga. Ke depan, kami juga akan mengusulkan pembangunan infrastruktur SPAM agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih memadai sehingga persoalan serupa dapat diminimalkan ketika musim kemarau kembali terjadi," kata Shodiq.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News 

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok-jec
*** : ----
Copyright : SNM


Selasa, 28 Juli 2026

Maxim Bangun Rest Area Driver di Surabaya, Dilengkapi WiFi dan Charging Station Gratis

Maxim Bangun Rest Area Driver di Surabaya, Dilengkapi WiFi dan Charging Station Gratis

SN Media™ Surabaya – Maxim, salah satu penyedia layanan transportasi online di Indonesia, resmi meluncurkan program pembangunan jaringan area istirahat (rest area) bagi mitra pengemudi. Warkop Kupang Pojok di Surabaya menjadi lokasi pertama yang direnovasi sebagai proyek percontohan sebelum diperluas ke berbagai kota di Indonesia.

Program ini menjadi langkah baru Maxim dalam menghadirkan infrastruktur pendukung bagi mitra pengemudi. Inisiatif berskala nasional seperti ini juga menjadi yang pertama kali diwujudkan oleh Maxim sebagai bentuk komitmen meningkatkan kesejahteraan, kenyamanan, dan produktivitas driver selama bekerja. 

Setiap hari, ribuan pengemudi transportasi online menghabiskan waktu antara 10 hingga 12 jam di jalan. Keterbatasan tempat istirahat yang nyaman dan terjangkau menjadi tantangan yang kerap dihadapi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebugaran pengemudi, kualitas pelayanan, hingga keselamatan berkendara.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Maxim menghadirkan area istirahat yang dirancang sebagai ruang aman dan nyaman bagi para driver untuk melepas lelah, mengisi ulang energi, serta mempersiapkan diri sebelum kembali melayani pelanggan. Perusahaan meyakini bahwa pengemudi yang memiliki waktu istirahat memadai akan mampu memberikan layanan yang lebih baik sekaligus mendukung keselamatan penumpang. 

Renovasi Warkop Kupang Pojok meliputi pengecatan ulang area interior, pembaruan ruang makan, pembuatan mural berwarna cerah pada tiga sisi dinding, serta pemasangan plang baru agar lokasi lebih mudah dikenali. Selain itu, tersedia fasilitas Wi-Fi gratis dan charging station yang dapat dimanfaatkan pengemudi untuk mengisi daya berbagai perangkat elektronik. 

Kini, lokasi tersebut tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang istirahat yang mendukung aktivitas para driver. Head of Subdivision Maxim Surabaya, Rezal Gian Bachdar, mengatakan proyek tersebut merupakan tonggak penting bagi perusahaan. Menurutnya, Maxim ingin setiap mitra pengemudi merasa menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan yang mendapatkan perhatian dan dukungan. 

"Bagi kami, tempat istirahat yang nyaman bukan sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar yang berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan berkendara," ujarnya. 

Sambutan positif juga datang dari para driver. Mahmud, salah seorang mitra pengemudi Maxim, mengaku kini memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat, menikmati kopi, mengisi daya telepon genggam, hingga berbincang dengan sesama pengemudi. 

Sementara itu, pemilik Warkop Kupang Pojok, An Alex, menyebut jumlah driver yang datang meningkat setelah renovasi dan memberikan dampak positif bagi usahanya. 

Ke depan, Maxim akan mengevaluasi efektivitas proyek percontohan di Surabaya sebelum memperluas konsep serupa ke kota-kota lain. Perusahaan juga membuka peluang kemitraan dengan pelaku usaha lokal untuk menghadirkan lebih banyak titik istirahat yang bermanfaat bagi para mitra pengemudi di berbagai daerah.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

***
Editor : Asy
Foto/iLst : Maxim
*** : ----
Copyright : SNM


Senin, 13 Juli 2026

SAR Sikatan Ambeg Paramarta Konsisten Bantu Operasi Penyelamatan dan Misi Kemanusiaan Sejak 2016

SAR Sikatan Ambeg Paramarta Konsisten Bantu Operasi Penyelamatan dan Misi Kemanusiaan Sejak 2016

SN Media™ Ngawi – Pengabdian Broto Sanjoyo tidak berhenti saat jam kerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Ngawi usai. Di luar tugas kedinasan, ia telah mendedikasikan dirinya dalam berbagai aksi kemanusiaan sejak 2016 dengan terlibat langsung pada operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), penanganan bencana, hingga kegiatan sosial di berbagai daerah.

Selama menjalankan misi kemanusiaan, Broto dipercaya sebagai safety officer sekaligus koordinator tim internal. Tugas tersebut mengharuskannya memastikan seluruh personel bekerja sesuai prosedur keselamatan sebelum melakukan proses pencarian maupun evakuasi di lokasi yang memiliki risiko tinggi. 

 "Keselamatan personel selalu menjadi prioritas dalam setiap operasi. Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang baik, kami berharap seluruh proses pencarian maupun evakuasi dapat berjalan lancar sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan," kata Broto. 

Pengalaman yang dimiliki membuat Broto bersama sejumlah relawan mendirikan Yayasan Sikatan Ambeg Paramarta pada 2017. Sejak saat itu, yayasan tersebut aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial sekaligus mendukung operasi kemanusiaan di Kabupaten Ngawi maupun di luar daerah.

Tak hanya saat terjadi bencana alam, Broto bersama tim juga beberapa kali membantu tugas pemerintah, khususnya operasi yang dikoordinasikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Berbagai misi pernah dijalani, mulai pencarian korban tenggelam di sungai dan waduk, evakuasi korban meninggal dunia di dasar sumur, hingga penyelamatan korban yang terjatuh ke jurang. 

Menurut Broto, setiap operasi memiliki tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan kesiapan personel, peralatan yang memadai, serta kerja sama yang solid antara relawan dengan unsur TNI, Polri, Basarnas, BPBD, maupun instansi terkait lainnya. 

Selama hampir satu dekade berkecimpung di dunia filantropi, berbagai pengalaman di lapangan semakin menguatkan tekadnya untuk terus mengabdi kepada masyarakat. Baginya, kehadiran relawan menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan keadaan darurat sekaligus membantu tugas pemerintah saat terjadi musibah. 

"Menjadi relawan adalah bentuk pengabdian kepada sesama. Selama masih diberikan kesehatan dan kemampuan, saya akan terus berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan. Semoga semakin banyak masyarakat yang memiliki kepedulian untuk saling membantu, karena sekecil apa pun tindakan yang kita lakukan bisa menjadi harapan bagi mereka yang sedang tertimpa musibah," pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Senin, 22 Juni 2026

Ikon Jalan Nasional di Ngawi Jalani Pengecatan Ulang dan Perawatan

Ikon Jalan Nasional di Ngawi Jalani Pengecatan Ulang dan Perawatan

SN Media™ Ngawi – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Ngawi melakukan pengecatan ulang Tugu Gading Kartonyono yang menjadi ikon di ruas jalan nasional di jantung Kabupaten Ngawi. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut menelan anggaran sekitar Rp29 juta dan dilakukan karena kondisi cat pada sejumlah bagian tugu mulai mengelupas.

Kepala DPUPR Kabupaten Ngawi, Mohammad Sadli, menegaskan bahwa pengecatan ulang tidak berkaitan dengan persiapan Hari Jadi Ngawi ke-668, melainkan merupakan kegiatan pemeliharaan berkala untuk menjaga kondisi aset daerah agar tetap terawat dan memiliki tampilan yang baik. “Pengecatan ulang ini merupakan bagian dari pemeliharaan rutin. Kondisi cat pada beberapa bagian tugu sudah mulai mengelupas sehingga perlu dilakukan perbaikan dan pengecatan kembali agar tetap terjaga,” ujar Sadli, Senin (22/6/2026). 

Menurutnya, pengerjaan Tugu Gading Kartonyono memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena material utama bangunan tersebut terbuat dari stainless. Kondisi itu membuat proses perawatan dan pengecatan tidak dapat dilakukan seperti pada bangunan biasa. 

Sadli menjelaskan, sebelum dilakukan pengecatan, pekerja harus melakukan sejumlah tahapan persiapan, mulai dari perbaikan permukaan yang mengalami kerusakan hingga pendempulan pada bagian tertentu. Selain itu, material stainless juga membutuhkan jenis cat khusus agar hasil pengecatan lebih optimal dan tahan lama. 

“Karena materialnya berbahan stainless, maka penanganannya memerlukan keterampilan khusus. Mulai dari tahap persiapan permukaan, pendempulan, penggunaan cat khusus stainless, hingga proses finishing yang menyerupai pekerjaan poles agar hasilnya sesuai standar,” jelasnya. 

Ia menambahkan, seluruh proses pengerjaan dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kualitas hasil akhir. Tahapan finishing yang menyerupai proses pemolesan juga menjadi bagian penting agar karakteristik material stainless tetap terlihat dan memberikan tampilan yang maksimal. 

Tugu Gading Kartonyono selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Ngawi yang berada di jalur nasional dan menjadi penanda penting bagi masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas. Karena itu, pemeliharaan rutin dinilai perlu dilakukan guna menjaga estetika sekaligus umur bangunan. 

Terkait munculnya anggapan bahwa pengecatan ulang dilakukan untuk mempercantik tampilan tugu menjelang peringatan Hari Jadi Ngawi, Sadli menegaskan pekerjaan tersebut telah masuk dalam agenda pemeliharaan rutin DPUPR. 

“Pekerjaan ini memang bagian dari pemeliharaan rutin yang sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menjaga aset daerah. Kebetulan waktunya berdekatan dengan Hari Jadi Ngawi, namun bukan karena itu. Anggaran yang dialokasikan untuk pekerjaan pemeliharaan dan pengecatan ulang Tugu Gading Kartonyono ini sekitar Rp29 juta,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM