media online pemberitaan kabupaten ngawi
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2026

DP3AKB Ngawi Perkuat Tata Kelola Alokon, BKKBN Jatim Tinjau Gudang Penyimpanan

DP3AKB Ngawi Perkuat Tata Kelola Alokon, BKKBN Jatim Tinjau Gudang Penyimpanan

SN Media™ Ngawi – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Ngawi memperkuat tata kelola alat dan obat kontrasepsi (Alokon) melalui pendampingan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur pada 14–15 Oktober 2026. Kegiatan ini menyasar gudang Alokon tingkat kabupaten hingga Puskesmas Kauman, Kecamatan Widodaren.

Penguatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas petugas dalam mengelola Alokon sesuai standar, mulai dari penerimaan hingga pendistribusian ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kepala DP3AKB Kabupaten Ngawi dr. Nugrahaningrum mengatakan, ketertiban pengelolaan menjadi faktor penting untuk menjaga mutu dan memastikan ketersediaan kontrasepsi bagi pelayanan keluarga berencana. 

“Pengelolaan Alokon harus dilakukan secara cermat dan sesuai standar agar kualitasnya tetap terjaga. Ketersediaan stok juga perlu dipantau secara berkala supaya kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan dapat terpenuhi,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Tim Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur mengunjungi gudang Alokon DP3AKB Kabupaten Ngawi dan gudang Alokon di Puskesmas Kauman, Kecamatan Widodaren. Kunjungan ini menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai penataan persediaan serta prosedur penyimpanan yang benar. 

Peninjauan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan Alokon agar tetap layak digunakan dalam pelayanan keluarga berencana. Kondisi penyimpanan dan penataan barang menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk mendukung pengelolaan persediaan secara optimal. 

Selain kunjungan lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai mekanisme pengelolaan Alokon. Pembahasan meliputi penerimaan, penyimpanan, pencatatan administrasi, pemantauan stok, perencanaan kebutuhan, hingga pendistribusian ke fasilitas pelayanan kesehatan. 

Pengelolaan yang tertib dan sistematis diharapkan dapat memastikan ketersediaan Alokon sesuai jenis, jumlah, waktu, dan sasaran kebutuhan. Pemantauan stok secara berkala juga diperlukan untuk mengantisipasi kekurangan maupun penumpukan persediaan yang berpotensi menghambat pelayanan. 

Sinergi antara Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, DP3AKB Kabupaten Ngawi, dan fasilitas pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola yang efektif dan akuntabel. Koordinasi tersebut diharapkan mendukung kelancaran pelayanan keluarga berencana sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 

Dia pun berharap, penguatan tata kelola Alokon perlu diterapkan secara konsisten dalam kegiatan operasional sehari-hari, bukan hanya saat pendampingan berlangsung. 

“Harapannya, pengelolaan Alokon di Kabupaten Ngawi semakin baik, mulai dari penyimpanan hingga distribusi. Dengan persediaan yang terjaga dan penyaluran sesuai kebutuhan, pelayanan keluarga berencana kepada masyarakat dapat berjalan optimal dan berkesinambungan,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Minggu, 27 September 2026

Debu dan Cuaca Kering Mulai Ganggu Pernapasan Warga Ngawi

Debu dan Cuaca Kering Mulai Ganggu Pernapasan Warga Ngawi

SN Media™ Ngawi – Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan Kabupaten Ngawi meningkat sekitar 20 hingga 30 persen. Cuaca kering ekstrem disertai debu yang beterbangan turut berdampak terhadap gangguan saluran pernapasan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Ngawi dr. Heri Nurfahrudin menjelaskan, peningkatan tersebut terlihat dari kunjungan masyarakat ke puskesmas maupun rumah sakit. Dalam beberapa waktu terakhir, pasien dengan keluhan pernapasan menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.

"Kondisi cuaca saat ini turut berdampak pada kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan di Ngawi, peningkatannya mencapai 20 hingga 30 persen setiap hari," jelasnya. 

Menurut Heri, sejatinya ISPA memiliki kecenderungan disebabkan oleh virus sehingga peningkatan penderita perlu diwaspadai. Cuaca kering juga membuat debu lebih mudah beterbangan dan meningkatkan paparan, terutama saat masyarakat beraktivitas di luar ruangan.

Gejala awal yang perlu diperhatikan meliputi demam tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, serta tubuh terasa lemas. Keluhan tersebut sebaiknya tidak diabaikan apabila kondisi tubuh semakin menurun atau gangguan pernapasan bertambah berat. 

Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup beristirahat, memperbanyak minum air putih, serta menggunakan masker saat sakit maupun berada di lingkungan berdebu. Kebersihan lingkungan juga perlu dijaga selama cuaca kering. 

Pun, ISPA yang berkembang lebih berat dapat menyerang paru-paru dan menyebabkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kesehatan sejak gejala awal muncul. 

Kewaspadaan diperlukan ketika keluhan pernapasan muncul di tengah cuaca kering. Mengurangi paparan debu dan menjaga kondisi tubuh menjadi langkah penting agar gangguan yang dirasakan tidak berkembang menjadi lebih berat. 

Masyarakat juga perlu memahami bahwa masa inkubasi ISPA dapat berbeda-beda. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan ketika gejala mulai muncul setelah seseorang mengalami paparan atau berada di lingkungan yang berisiko. 

"Dalam kondisi cuaca seperti sekarang, masyarakat tetap perlu waspada terhadap gejala ISPA karena masa inkubasinya dapat berbeda-beda, namun umumnya berlangsung sekitar dua hingga tiga hari," pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Asri-Tim
Editor : Asy
Foto/iLst : Generated AI
*** : ----
Copyright : SNM


Kamis, 30 Juli 2026

Jaga Kesehatan Anabul, Ngawi Gelar Posyandu Kucing Gratis dengan Beragam Layanan Pemeriksaan

Jaga Kesehatan Anabul, Ngawi Gelar Posyandu Kucing Gratis dengan Beragam Layanan Pemeriksaan

SN Media™ Ngawi - Rangkaian Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 diisi kegiatan Posyandu Kucing yang memberikan layanan kesehatan hewan secara gratis bagi warga Kabupaten Ngawi. Kegiatan digelar Dinas Perikanan dan Peternakan di Gedung Laboratorium Kesehatan Hewan.

Layanan tersebut ditujukan bagi para pencinta kucing untuk memastikan kondisi kesehatan hewan peliharaan sekaligus meningkatkan kesadaran pemilik agar rutin melakukan pemeriksaan. Sejumlah layanan disediakan, mulai General Check Up, pemeriksaan USG kucing, vaksinasi, pemberian vitamin, hingga pengobatan penyakit kulit. 

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi Eko Yudo Nurcahyo mengatakan, Posyandu Kucing menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 sekaligus sarana mendekatkan layanan kesehatan hewan kepada masyarakat. 

“Melalui kegiatan ini, pencinta kucing bisa mengetahui kondisi kesehatan hewan peliharaannya secara langsung. Pemeriksaan secara rutin penting dilakukan agar kesehatan kucing tetap terjaga,” ujar Eko, Kamis (30/07/2026). 

Menurut dia, perhatian terhadap kesehatan kucing tidak hanya berkaitan dengan kondisi hewan, tetapi juga memiliki dampak terhadap kesehatan pemilik. Sebab, kucing termasuk hewan yang berpotensi membawa penyakit zoonosis yang dapat menular antara hewan dan manusia.

Karena itu, pemilik kucing diimbau aktif memeriksakan hewan peliharaannya, baik melalui Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan maupun dokter hewan secara mandiri. 

“Zoonosis merupakan penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Maka, pemeriksaan kesehatan hewan perlu dilakukan secara berkala sebagai langkah pencegahan sekaligus menjaga kesehatan lingkungan keluarga,” jelasnya. 

Pun pada pelaksanaan Posyandu Kucing kali ini, panitia menargetkan sebanyak 25 pemilik kucing untuk mendapatkan layanan. Setiap pemilik diperbolehkan membawa maksimal dua ekor kucing untuk diperiksa. 

Kegiatan tersebut mendapat sambutan dari warga yang memanfaatkan layanan untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan peliharaan. Salah satunya Bahrul Setiawan, warga Desa Jeblogan, Kecamatan Paron, yang sengaja membawa kucingnya untuk mengikuti pemeriksaan. 

Menurut Bahrul, layanan pemeriksaan gratis tersebut memberikan kesempatan bagi pemilik hewan untuk lebih mudah mengontrol kesehatan kucing. Selain pemeriksaan, pemilik juga dapat memperoleh informasi mengenai kondisi dan perawatan hewan peliharaan. 

“Senang bisa ikut kegiatan ini, karena kami bisa mengontrol kesehatan kucing peliharaan. Jadi bisa mengetahui kondisinya dan lebih memperhatikan perawatannya,” kata Bahrul.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Rabu, 01 Juli 2026

Pemkab Ngawi Dukung Program I-SEE Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata Ramah Disabilitas

Pemkab Ngawi Dukung Program I-SEE Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata Ramah Disabilitas

SN Media™ Ngawi – Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) yang dijalankan Yayasan Paramitra Indonesia sejak 2024 mendapat apresiasi dari masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Ngawi. Dalam perkembangan, program tersebut dinilai berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata sekaligus memperkuat layanan kesehatan mata yang inklusif hingga tingkat desa.

Apresiasi itu disampaikan Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, saat membuka Diskusi Publik Keberlanjutan Layanan Kesehatan Mata Inklusif untuk Semua Warga Ngawi, Menurutnya, Program I-SEE telah memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan gangguan penglihatan sejak dini. 

"Program I-SEE yang dilaksanakan Yayasan Paramitra ini telah semakin membuka pemahaman kita mengenai pentingnya menjaga dan mencegah gangguan kesehatan mata. Apalagi prevalensi kasus di Ngawi lebih besar dari angka nasional," ujar Wabup yang akrab disapa Antok, Senin (29/06/2026). 

Diskusi publik tersebut menjadi forum untuk memaparkan berbagai capaian Program I-SEE sekaligus menyerap masukan dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan kelompok penyandang disabilitas guna memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mata di Kabupaten Ngawi. 

Kegiatan itu dihadiri perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Bappeda, Dinas Pendidikan, DP3AKB, kader kesehatan, kader Posyandu, Duta GenRe, hingga perwakilan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). 

Salah seorang kader kesehatan, Wartini, berharap Program I-SEE dapat terus berlanjut karena manfaatnya telah dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara berkala. 

"Kami harap Paramitra tetap dapat melanjutkan program ini karena jelas bermanfaat bagi masyarakat," katanya. 

Kepala Bidang Pelayanan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Retno Dewi Sulistyani, mengatakan Program I-SEE telah membantu pemerintah dalam upaya pencegahan dan penanganan gangguan kesehatan mata melalui pelibatan aktif masyarakat. 

"Program ini telah berhasil melibatkan masyarakat untuk tahu dan peduli pada ancaman gangguan kesehatan mata. Bahkan juga melatih warga untuk bisa melakukan skrining mata sejak dini. Tentu ini membantu kami," ujarnya. 

Menurut Retno, saat ini Dinas Kesehatan bersama Yayasan Paramitra tengah menunggu pengesahan Peraturan Bupati (Perbup) tentang layanan kesehatan mata. Regulasi tersebut diharapkan menjadi dasar hukum sekaligus memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan dan kader saat menjalankan pelayanan di masyarakat.

"Kami harap Program I-SEE tetap berlanjut di Ngawi karena manfaatnya sudah sangat dirasakan. Kami juga berharap Paramitra terus mendampingi Dinas Kesehatan dalam mengawal implementasi Perbup yang saat ini masih dalam tahap kajian akademik," imbuhnya. 

Direktur Yayasan Paramitra Indonesia, Asiah Sugiyanti, menjelaskan Program I-SEE bertujuan meningkatkan akses layanan kesehatan mata yang inklusif, khususnya bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas, melalui kolaborasi lintas sektor dan pelibatan aktif masyarakat. 

Selama pelaksanaan program, I-SEE berhasil meningkatkan kapasitas kader kesehatan dan guru dalam deteksi dini gangguan penglihatan, membentuk 10 Desa Sehat Mata di Kabupaten Ngawi, memperluas akses pelayanan kesehatan mata yang ramah disabilitas, serta mendorong lahirnya kebijakan daerah melalui penyusunan Peraturan Bupati tentang pengembangan Desa Sehat Mata Inklusif. 

"Selain peningkatan kapasitas kader dan guru, capaian lainnya adalah terbentuknya Desa Sehat Mata, meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan mata yang ramah disabilitas, serta dukungan kebijakan daerah dalam pengembangan Desa Sehat Mata Inklusif," pungkas Asiah.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

***
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Kamis, 18 Juni 2026

Pemdes Bangunrejo Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Melalui Posyandu Berkelanjutan

Pemdes Bangunrejo Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Melalui Posyandu Berkelanjutan

SN Media™ Ngawi – Sebanyak 109 balita mengikuti pelayanan di lima Posyandu yang tersebar di Desa Bangunrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi. Kegiatan tersebut difokuskan pada penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pemantauan status gizi untuk deteksi dini stunting, pemberian makanan tambahan (PMT), imunisasi dasar, serta pemberian vitamin.

Kepala Desa Bangunrejo, Sutrisno, mengatakan Posyandu memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak usia dini. Melalui pelayanan yang dilakukan secara rutin, kondisi kesehatan balita dapat terpantau dengan baik sehingga berbagai permasalahan gizi dapat segera ditangani. 

“Posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, pertumbuhan dan perkembangan balita dapat dipantau secara berkala sehingga berbagai risiko kesehatan, termasuk stunting, dapat dicegah lebih awal,” ujar Kades Sutrisno. 

Seluruh kegiatan Posyandu di Desa Bangunrejo dibina langsung oleh UPT Puskesmas Karanganyar. Dalam pelaksanaannya, layanan kesehatan telah menerapkan sistem Posyandu 6 SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang mencakup pelayanan sepanjang siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. 

Pun, dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan digerakkan oleh kader kesehatan desa bersama bidan desa setempat. Kehadiran para kader dan tenaga kesehatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat. 

Selain pelayanan kesehatan dasar, sektor kesehatan dan jaminan sosial di Desa Bangunrejo juga didukung keberadaan Posyandu aktif, tenaga kesehatan desa, serta akses pelayanan ke UPT Puskesmas Karanganyar sebagai puskesmas induk yang melayani masyarakat setempat. 

Pemdes Bangunrejo terus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui sinergi dengan tenaga kesehatan dan kader Posyandu. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia. 

“Kami berharap masyarakat semakin aktif memanfaatkan layanan Posyandu. Dengan keterlibatan semua pihak, kualitas kesehatan warga dapat terus meningkat dan generasi anak-anak Desa Bangunrejo dapat tumbuh sehat, kuat, serta terbebas dari stunting,” pungkasnya. 

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Asri
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Senin, 11 Mei 2026

Dinkes Ngawi Pastikan Enam Petani Terinfeksi Leptospirosis Kini Telah Sembuh

Dinkes Ngawi Pastikan Enam Petani Terinfeksi Leptospirosis Kini Telah Sembuh

SN Media™ Ngawi – Penyakit leptospirosis sempat ditemukan merambah sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi selama awal hingga Mei 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat enam warga terinfeksi penyakit akibat bakteri leptospira, namun seluruh pasien kini dinyatakan sembuh setelah menjalani penanganan medis intensif.

Kepala Dinas Kesehatan Ngawi, dr. Heri Nur Fachrudin, menyampaikan seluruh penderita yang tercatat merupakan petani aktif. Penularan diduga terjadi saat bekerja di area persawahan tanpa perlindungan memadai, terutama ketika terdapat luka terbuka pada bagian kaki maupun tangan. 

Menurut Heri, bakteri leptospira berasal dari urine tikus yang mencemari genangan air sawah. Kondisi area pertanian yang lembap serta populasi tikus cukup tinggi membuat potensi penyebaran penyakit tersebut perlu diwaspadai masyarakat, khususnya petani yang rutin beraktivitas di sawah. 

“Gejala awal leptospirosis kerap menyerupai penyakit biasa. Penderita umumnya mengalami panas mendadak, nyeri otot pada bagian paha dan betis, disertai rasa mual yang sering dianggap sekadar kelelahan setelah bekerja,” terang Heri, Senin (11/05/2026). 

Ia kembali mengingatkan, bila tidak segera ditangani menggunakan antibiotik khusus, infeksi leptospira dapat berkembang menjadi lebih serius. Kondisi paling berat biasanya ditandai perubahan warna kekuningan pada mata akibat gangguan organ tubuh, terutama fungsi ginjal yang mulai mengalami penurunan. 

Dinas Kesehatan Ngawi memastikan keenam pasien tersebut telah melewati masa perawatan dan saat ini berada dalam kondisi sehat. Penanganan cepat dari tenaga medis disebut membantu proses pemulihan pasien sehingga risiko komplikasi berat dapat dicegah sejak awal pemeriksaan dilakukan.

Berdasarkan data Dinkes Ngawi, kasus leptospirosis tersebar di beberapa wilayah pelayanan puskesmas. Rinciannya meliputi Ngrambe satu kasus, Tambakboyo satu kasus, Mantingan satu kasus, Karanganyar dua kasus, serta Sine yang turut mencatat satu penderita pada tahun ini. 

Munculnya kasus tersebut membuat Dinkes Ngawi kembali mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Langkah sederhana seperti membersihkan lingkungan rumah hingga menekan keberadaan sarang tikus dinilai membantu mengurangi risiko penularan penyakit berbahaya tersebut. 

“Bagi warga khususnya petani diminta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun air tercemar. Setelah beraktivitas di sawah, masyarakat dianjurkan segera mencuci kaki dan tangan menggunakan sabun agar bakteri tidak mudah masuk melalui luka terbuka,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Minggu, 03 Mei 2026

35 Dokter Hewan Diterjunkan Jelang Idul Adha, Ngawi Pastikan Ternak Kurban Bebas Penyakit Berbahaya

35 Dokter Hewan Diterjunkan Jelang Idul Adha, Ngawi Pastikan Ternak Kurban Bebas Penyakit Berbahaya

SN Media™ Ngawi - Menjelang Hari Raya Idul Adha, Pemerintah Kabupaten Ngawi mulai mengintensifkan pengawasan kesehatan hewan kurban. Langkah ini ditempuh guna memastikan ternak terbebas dari ancaman penyakit menular berbahaya seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Upaya tersebut dipusatkan salah satunya di Pasar Hewan Ngawi yang berada di Desa Kandangan, Kecamatan Ngawi. Lokasi ini menjadi pintu utama lalu lintas ternak, sehingga pemeriksaan dilakukan ketat demi mencegah potensi penyebaran penyakit. Sebanyak 35 dokter hewan diterjunkan dan disebar ke 19 kecamatan. 

Mereka bertugas melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hewan ternak yang masuk maupun keluar pasar, sekaligus memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga menjelang hari besar keagamaan. Dari hasil pemeriksaan awal yang telah dilakukan, petugas tidak menemukan adanya indikasi penyakit menular pada ternak. 

Kondisi ini menjadi sinyal positif, meski kewaspadaan tetap ditingkatkan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit secara cepat. 

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan setempat, Tony Wibowo, menegaskan bahwa pemeriksaan ini bertujuan menjamin hewan kurban, baik sapi maupun kambing, dalam kondisi sehat dan layak konsumsi bagi masyarakat. 

“Proses pemeriksaan dilakukan secara teliti dan detail terhadap setiap ternak. Hal tersebut penting guna meminimalisir risiko penularan LSD dan PMK yang dapat berdampak luas terhadap kesehatan hewan maupun ekonomi peternak,” jelasnya. 

Tidak hanya di pasar hewan, pengawasan juga akan dilanjutkan menjelang proses penyembelihan. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah penyembelihan, baik di lingkungan mushola, masjid, maupun rumah potong hewan yang tersebar di wilayah Ngawi. 

Dengan langkah ini, pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menjalankan ibadah kurban dengan aman dan tenang. Selain itu, upaya ini juga menjadi bentuk komitmen menjaga kesehatan hewan serta melindungi konsumen dari potensi risiko penyakit.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Tim
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Rabu, 15 April 2026

Dinkes Ngawi Kirim 20 Sampel Suspek Campak ke Surabaya, Status Masih Menunggu Hasil Laboratorium

Dinkes Ngawi Kirim 20 Sampel Suspek Campak ke Surabaya, Status Masih Menunggu Hasil Laboratorium

SN Media™ Ngawi – Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi memastikan penanganan dugaan kasus campak terus berjalan. Hingga pertengahan April 2025, sebanyak 20 sampel dari pasien suspek telah dikirim untuk uji laboratorium lanjutan.

Pengiriman spesimen tersebut dilakukan ke Surabaya melalui Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK). Langkah ini ditempuh guna memastikan apakah kasus yang ditemukan benar merupakan campak atau bukan. 

Tim Kerja Imunisasi dan Surveilans Dinkes Ngawi, Daut Setyowahono, menjelaskan bahwa peningkatan kewaspadaan dilakukan menyusul adanya perkembangan kasus campak di sejumlah daerah di Jawa Timur belakangan ini. 

“Setiap temuan gejala klinis yang mengarah pada campak langsung ditindaklanjuti dengan koordinasi lapangan. Petugas kemudian mengambil spesimen pasien sebagai bahan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut,” jelasnya, Rabu (15/04/2026). 

Menurutnya, seluruh sampel yang telah dikirim masih berstatus pending. Proses pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu untuk memastikan validitas hasil secara menyeluruh. 

Daut menambahkan, langkah surveilans tidak hanya berhenti pada pengambilan sampel. Dinas Kesehatan juga terus memantau perkembangan kasus secara berkala melalui jaringan fasilitas pelayanan kesehatan di tingkat bawah. 

“Sebagai upaya pencegahan, Dinkes Ngawi mengintensifkan program imunisasi kejar. Program ini menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sesuai dengan usia yang dianjurkan pemerintah,” imbuhnya. 

Pun ia memastikan, bahwa petugas kesehatan di puskesmas turut melakukan skrining dan pendataan. Langkah ini bertujuan mengidentifikasi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap agar segera diberikan perlindungan. 

Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan. Warga diimbau lebih waspada terhadap gejala campak seperti demam, ruam, dan gangguan pernapasan ringan yang kerap muncul pada tahap awal. 

“Dengan langkah terpadu mulai dari surveilans, pemeriksaan laboratorium hingga imunisasi, Dinkes Ngawi berharap potensi penyebaran campak dapat ditekan sedini mungkin dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” pungkasnya.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News 

Pewarta: dam
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Selasa, 14 April 2026

Inovasi Layanan Kesehatan Desa Sekaralas, Posyandu ILP Dahlia Sasar Bayi hingga Lansia

Inovasi Layanan Kesehatan Desa Sekaralas, Posyandu ILP Dahlia Sasar Bayi hingga Lansia

SN Media™ Ngawi – Kehadiran Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Dahlia di Dusun Sekaralas, Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, menjadi angin segar bagi pemerataan layanan kesehatan masyarakat lintas usia di tingkat desa.

Layanan ini dirancang terpadu, mencakup sasaran mulai bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil, hingga lanjut usia, sehingga kebutuhan kesehatan dasar warga dapat terlayani dalam satu wadah yang mudah dijangkau. 

Kepala Desa Sekaralas, Sihmanto, menyampaikan bahwa Posyandu ILP merupakan program yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai langkah awal penguatan pelayanan kesehatan masyarakat desa. 

“Posyandu ILP Dahlia tidak sekadar menghadirkan layanan kesehatan rutin, melainkan juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan dan merata bagi warga desa Sekaralas,” ujarnya, Selasa (14/04/2026). 

Ia menambahkan, pembentukan struktur kader Posyandu ILP melibatkan unsur masyarakat setempat sehingga tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjalankan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan dasar di desa. 

“Dengan keterlibatan warga secara langsung, diharapkan pelayanan yang diberikan tidak hanya berjalan optimal, tetapi juga mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus,” imbunya. 

Pun program ini juga mengedepankan pendekatan promotif dan preventif sehingga masyarakat tidak hanya berobat saat sakit, tetapi juga didorong untuk menjaga kesehatan sejak dini melalui edukasi dan pemeriksaan rutin. 

Selain itu, Posyandu ILP menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas warga, di mana kegiatan kesehatan berjalan beriringan dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. 

Kades Sihmanto kembali menegaskan bahwa partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini, mengingat peran warga sangat penting dalam menjaga keberlangsungan layanan yang sudah terbentuk. 

“Harapannya, ke depan Posyandu ILP dapat terus berkembang, baik dari sisi fasilitas, sumber daya kader, maupun cakupan layanan yang semakin luas dan berkualitas bagi masyarakat desa,” sambungnya. 

Dengan semangat gotong royong yang terus dijaga, Posyandu ILP Sekaralas diharapkan menjadi contoh layanan kesehatan desa yang adaptif, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.  

Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News  

Pewarta: Asri
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Jumat, 20 Maret 2026

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Layanan Kesehatan Mata Ramah Disabilitas di Ngawi

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Layanan Kesehatan Mata Ramah Disabilitas di Ngawi

SN-Media™ Ngawi - Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi bersama Yayasan Para Mitra Indonesia melalui Program Inklusif System Effective for Eye Care (I-SEE) menggelar pertemuan strategis guna merumuskan layanan kesehatan mata inklusif yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menjadi langkah konkret memperluas akses pelayanan kesehatan mata, khususnya bagi kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas agar memperoleh layanan yang setara dan berkeadilan. 

Pertemuan ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya organisasi disabilitas seperti Pertuni, Gerkatin, dan WIDI, Dinas Sosial, serta perwakilan fasilitas kesehatan yakni RSUD dr. Soeroto Ngawi, RS Widodo, Puskesmas Sine, dan Puskesmas Karangjati. 

Project Manager Program I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia, Marsudi, menegaskan bahwa pembangunan layanan kesehatan mata inklusif harus melibatkan kelompok disabilitas secara aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. 

“Layanan inklusif tidak cukup hanya dari sisi fasilitas, tetapi harus membuka ruang partisipasi disabilitas dalam setiap proses agar sistem yang dibangun tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Marsudi, Selasa (17/03/2026). 

Ia menambahkan, pihaknya mendorong kesepakatan terkait alur rujukan rehabilitasi penglihatan yang terintegrasi, sehingga pasien tetap mendapatkan pendampingan berkelanjutan setelah penanganan medis selesai. 

“Ke depan, kami berharap seluruh fasilitas kesehatan di Ngawi mampu memberikan layanan yang aksesibel, sehingga tidak ada warga yang kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan mata,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Ngawi, Suhadi Nanang Sucipto, mengapresiasi dukungan Program I-SEE yang dinilai mampu memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan dan audit aksesibilitas layanan. 

"Pelayanan kesehatan mata tidak hanya berorientasi pada tindakan medis semata, tetapi harus dibangun dalam sistem berkelanjutan agar seluruh warga dapat mengakses layanan tanpa hambatan fisik maupun sensorik," jelas Nanang.

Sementara, dalam sesi pemaparan, Yayasan Para Mitra Indonesia menyampaikan kerangka layanan kesehatan mata yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif guna memastikan pelayanan berjalan secara menyeluruh. 

Sebagai tindak lanjut, para pihak menjadwalkan pertemuan lanjutan pada Kuartal II tahun 2026 guna membahas rancangan kerja sama antara rumah sakit dan organisasi disabilitas dalam memperkuat sistem rujukan rehabilitasi sosial.

Langkah ini diharapkan menjadi pijakan kuat bagi Kabupaten Ngawi dalam mewujudkan layanan kesehatan inklusif yang tidak meninggalkan siapa pun serta menjadi contoh bagi daerah lain.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: dAm
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Minggu, 08 Maret 2026

Inspektorat Ngawi Reviu Pelayanan Kesehatan 2026, Pastikan Layanan Publik Bebas Gratifikasi dan Pungli

Inspektorat Ngawi Reviu Pelayanan Kesehatan 2026, Pastikan Layanan Publik Bebas Gratifikasi dan Pungli

SN-Media™ Ngawi – Inspektorat Kabupaten Ngawi melakukan reviu kinerja pelayanan publik pada sektor kesehatan tahun 2026. Kegiatan pengawasan ini difokuskan untuk memastikan layanan kesehatan berjalan transparan serta terbebas dari praktik penyuapan, gratifikasi, maupun pemerasan di fasilitas kesehatan.

Kepala Inspektorat Kabupaten Ngawi, Yulianto Kusprasetyo, menegaskan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen pengawasan internal pemerintah daerah dalam menjaga mutu pelayanan publik. Terutama pada sektor kesehatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. 

“Pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut sikap pelayanan yang ramah, cepat, serta menjunjung tinggi integritas aparatur. Prinsip pelayanan bersih menjadi fondasi penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujarnya, saat dikonfirmasi lewat aplikasi chat, Minggu (08/03/2026). 

Masih menurutnya, reviu pelayanan publik tersebut dilaksanakan pada awal tahun oleh Tim Inspektorat Pembantu Wilayah II. Tim turun langsung ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk melihat proses pelayanan secara nyata, sekaligus mencermati berbagai potensi kendala yang muncul di lapangan. 

Kegiatan tersebut tidak semata berfokus pada pemeriksaan dokumen administrasi. Petugas juga meninjau bagaimana alur pelayanan berlangsung, mulai dari penerimaan pasien hingga proses pelayanan medis yang diberikan kepada masyarakat. 

Pendekatan lapangan dipilih agar gambaran kondisi pelayanan dapat terlihat secara utuh. Dengan begitu, Inspektorat dapat mengetahui apakah standar pelayanan sudah berjalan sesuai ketentuan serta memastikan tidak ada praktik pungutan yang merugikan warga. 

Selain melakukan penilaian, tim pengawas juga berdialog dengan petugas kesehatan maupun pengelola fasilitas layanan. Diskusi tersebut menjadi ruang evaluasi bersama untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan. 

Inspektorat memandang sektor kesehatan sebagai salah satu layanan publik yang memerlukan pengawasan konsisten. Hal ini penting agar pelayanan yang diberikan pemerintah daerah tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas. 

Melalui reviu tersebut, Inspektorat juga memotret sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan pelayanan. Catatan evaluasi itu nantinya menjadi bahan rekomendasi untuk mendorong perbaikan nyata di tingkat pelaksana. 

Langkah pengawasan ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola pelayanan publik yang lebih terbuka. Masyarakat pun diharapkan semakin mudah memperoleh layanan kesehatan tanpa hambatan prosedural maupun praktik yang tidak semestinya. 

“Dengan pengawasan yang berkelanjutan, pemerintah daerah berharap kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Ngawi terus meningkat. Pelayanan yang bersih, cepat, dan responsif menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih prima,” pungkasnya.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News 

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Senin, 16 Februari 2026

Jelang Puasa, UDD PMI Ngawi Catat Stok Darah Stabil

Jelang Puasa, UDD PMI Ngawi Catat Stok Darah Stabil

SN-Media™ Ngawi – Unit Donor Darah PMI Kabupaten Ngawi memastikan ketersediaan darah relatif aman menjelang Ramadan 2026. Kepastian itu disampaikan setelah dilakukan pengecekan rutin terhadap stok yang tersimpan di ruang penyimpanan UDD setempat.

Manajer Kualitas UDD PMI Ngawi, Nur Rokhim, menjelaskan jumlah persediaan untuk golongan A tercatat 130 kantong, sementara golongan B mencapai 120 kantong, dan golongan O sekitar 120 kantong darah. 

“Angka tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis di sejumlah fasilitas kesehatan wilayah Ngawi dalam waktu dekat. Meski demikian, ada satu golongan yang saat ini belum tersedia,” jelas Nur, Senin (16/02/2026). 

Tambahnya, golongan darah AB tercatat kosong. Kondisi itu terjadi karena jumlah pendonor dengan golongan tersebut relatif sedikit, terlebih menjelang bulan puasa ketika intensitas donor biasanya mengalami penurunan cukup signifikan. 

Nur berharap warga yang memiliki golongan darah AB berkenan datang langsung ke UDD PMI Ngawi untuk berdonor. 

Pun layanan dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Secara umum, pihaknya menegaskan persediaan darah di Kabupaten Ngawi masih dalam batas aman. 

“Dalam menyambut bulan suci Ramadan, UDD PMI juga menyiapkan suvenir sebagai bentuk apresiasi bagi para pendonor yang berpartisipasi,” pungkasnya. 

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: Asri
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Sabtu, 14 Februari 2026

Sejumlah Santri Ponpes Al-Hijrah Ngawi Dirawat, Dugaan Keracunan MBG Diselidiki

Sejumlah Santri Ponpes Al-Hijrah Ngawi Dirawat, Dugaan Keracunan MBG Diselidiki

SN-Media™ Ngawi – Sebanyak 67 santri Pondok Pesantren Al-Hijrah, Desa Karangasri, Kecamatan Ngawi, menjalani perawatan intensif setelah mengeluhkan mual, pusing, dan muntah, dengan dugaan sementara berkaitan konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Sabtu (14/2/2026).

Para santri dievakuasi ke empat fasilitas kesehatan berbeda guna mendapatkan penanganan medis. Tenaga kesehatan bergerak cepat melakukan observasi, sementara sampel makanan yang dikonsumsi turut diamankan untuk uji laboratorium lanjutan. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Heri Nurfahrudin, membenarkan total 67 santri dirawat hingga Sabtu siang. Mereka tersebar di Puskesmas Padas, Kasreman, Ngawi Purba, serta RSUD dr. Soeroto Ngawi. Rinciannya, 36 santri menjalani perawatan di Puskesmas Padas, 12 di Puskesmas Kasreman, 10 di Puskesmas Ngawi Purba, dan sembilan lainnya mendapat penanganan medis di rumah sakit daerah setempat. 

“Sejumlah santri dilaporkan mulai merasakan gejala sejak dini hari usai salat Subuh. Sebagian lainnya mengaku keluhan muncul ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di lingkungan pondok,” ujar Kadinkes Heri. 

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, sebelumnya para santri menyantap menu MBG pada Jumat siang berupa rolade, tahu krispi, dan oseng wortel, Jumat (13/2/2026). Pun informasi awal menyebutkan paket MBG tersebut berasal dari SPPG Cabean di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi. 

Meski demikian, pihak terkait menegaskan belum dapat memastikan sumber penyebab sebelum hasil uji laboratorium diumumkan. 

Terpisah, perwakilan pondok pesantren, Ustadzah Juniarbulan, menyampaikan laporan santri yang mengeluh muntah dan pusing diterima secara bertahap selepas Subuh. Pihak pondok menyatakan tetap mengedepankan koordinasi dan menunggu hasil pemeriksaan resmi. 

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok-m
*** : ----
Copyright : SNM


Selasa, 10 Februari 2026

Penonaktifan Puluhan Ribu Peserta BPJS PBI Ngawi, Dinsos Pastikan Sesuai Ketentuan Pusat

Penonaktifan Puluhan Ribu Peserta BPJS PBI Ngawi, Dinsos Pastikan Sesuai Ketentuan Pusat

SN-Media™ Ngawi - Penonaktifan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) di Kabupaten Ngawi mencapai puluhan ribu jiwa setelah dilakukan pemutakhiran data kesejahteraan masyarakat oleh pemerintah pusat. Meski demikian, total penerima bantuan kesehatan di daerah tersebut masih tergolong besar.

Data Dinas Sosial Kabupaten Ngawi mencatat sekitar 33 ribu peserta BPJS PBI dinonaktifkan karena tidak lagi masuk kategori masyarakat prioritas penerima bantuan sosial sesuai ketentuan terbaru pemerintah. 

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Ngawi, Moch. Turnawan, menyampaikan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut penyesuaian data terpadu kesejahteraan sosial yang bersumber dari Kementerian Sosial melalui Pusdatin. 

“Total penerima BPJS PBI di Kabupaten Ngawi saat ini mencapai sekitar 453 ribu jiwa. Jumlah tersebut mengacu pada Surat Keputusan PBI JKN yang diterbitkan pada Januari 2026,” terang Turnawan, Selasa (10/02/2026). 

Ia menambahkan, kepesertaan PBI JKN hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang masuk kelompok desil satu hingga lima sebagaimana diatur dalam Kepmensos Nomor 79/HUK/2025 tentang klasifikasi kesejahteraan penerima bantuan. 

Turnawan menguraikan, desil satu dikategorikan sangat miskin, desil dua miskin, desil tiga hampir miskin, desil empat rentan miskin, serta desil lima kelompok ekonomi pas-pasan yang masih menjadi prioritas program bantuan pemerintah. 

Sementara warga yang masuk kelompok desil enam hingga sepuluh dianggap memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas sehingga tidak lagi diprioritaskan sebagai penerima bantuan iuran jaminan kesehatan nasional. 

Menurutnya, penonaktifan dilakukan berdasarkan verifikasi dan validasi data nasional agar bantuan sosial tetap tepat sasaran sekaligus mencegah ketidaktepatan distribusi program perlindungan sosial pemerintah. 

Meski terdapat penghapusan kepesertaan, pemerintah pusat tetap menambahkan kuota baru sekitar 12 ribu peserta PBI JKN bagi Kabupaten Ngawi sebagai bagian penyesuaian data penerima manfaat. 

Dengan adanya penghapusan dan penambahan kuota tersebut, total penyesuaian kepesertaan PBI JKN kewilayahan atau PBI APBD di Kabupaten Ngawi mencapai sekitar 45 ribu peserta berdasarkan pembaruan data terbaru. 

ia kembali menegaskan masyarakat yang kepesertaannya terblokir masih memiliki peluang mengajukan reaktivasi melalui pelayanan Dinas Sosial di Mal Pelayanan Publik Kabupaten Ngawi dengan mekanisme tertentu. 

“Reaktivasi dapat dilakukan apabila warga memiliki kebutuhan medis mendesak, seperti penyakit kronis, penyakit katastropik, maupun kondisi darurat yang membahayakan keselamatan jiwa dengan melampirkan surat keterangan fasilitas kesehatan setempat,” pungkasnya.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Selasa, 27 Januari 2026

Waspada PMK di Ngawi, Peternak Diminta Perketat Sanitasi dan Vaksinasi Sapi

Waspada PMK di Ngawi, Peternak Diminta Perketat Sanitasi dan Vaksinasi Sapi

SN-Media™ Ngawi - Kasus Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK pada sapi di Kabupaten Ngawi kembali terdeteksi dan menyita perhatian dinas terkait, seiring adanya laporan baru dari sejumlah wilayah sentra peternakan rakyat.

Dinas Peternakan dan Perikanan (DPP) Kabupaten Ngawi mencatat hingga 26 Januari 2026 terdapat 34 kasus PMK yang tersebar di 11 kecamatan dan 16 desa, dengan laporan dominan mengarah pada kesembuhan ternak. 

Kabid Kesehatan Hewan DPP setempat, Toni Wibowo, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan laporan kematian sapi akibat PMK, serta kondisi lapangan masih dapat dikendalikan melalui pemantauan rutin. 

“Setiap hari kami lakukan pembaruan data, mulai jumlah kasus, potong paksa, sembuh, hingga perkembangan lapangan, dan sejauh ini laporan yang masuk mayoritas sapi berangsur pulih,” ujar dia, Selasa (27/01/2026). 

Masih menurutnya, dari total 19 kecamatan di Ngawi, penyebaran PMK baru terdeteksi di 11 kecamatan, terutama wilayah yang berdekatan dengan pasar hewan dan daerah perbatasan. 

Beberapa wilayah tersebut di antaranya berbatasan langsung dengan Kabupaten Magetan serta kawasan selatan Karanganyar yang berdekatan dengan Sragen, sehingga mobilitas ternak menjadi faktor risiko utama penularan. 

Untuk pencegahan pada sapi sehat, dinas mendorong vaksinasi dengan dua skema, yakni vaksin gratis dari pemerintah daerah dan vaksin mandiri yang dapat diakses peternak melalui dokter hewan terdekat. 

Skema vaksinasi gratis diberikan melalui pendaftaran peternak ke perangkat desa setempat, dengan ketersediaan vaksin dinyatakan aman untuk kebutuhan dua bulan sambil menunggu bantuan pusat. 

Selain vaksinasi, DPP Ngawi juga melakukan pengawasan langsung di Pasar hewan, meliputi skrining kesehatan sapi, penyemprotan disinfektan pada ternak, serta sterilisasi kendaraan pengangkut. 

Pun peternak juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap faktor pemicu PMK seperti angin kencang dan cuaca ekstrem, yang dapat memperpanjang daya tahan virus di lingkungan kandang. 

“Langkah mandiri yang dianjurkan meliputi sanitasi dan higienisasi kandang secara rutin, penyemprotan disinfektan, serta peningkatan imunitas sapi melalui pakan tambahan dan ramuan herbal tradisional,” pungkasnya.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: dAm
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Rabu, 07 Januari 2026

Ngawi Aman Superflu, Dinkes Jalankan Pemantauan SKDR Menyeluruh di Faskes

Ngawi Aman Superflu,  Dinkes Jalankan Pemantauan SKDR Menyeluruh di Faskes

SN-Media™ Ngawi - Laporan nasional kesehatan pada Desember 2025 mencatat sebanyak 62 kasus influenza A subtipe H3N2 atau dikenal sebagai superflu,  terdeteksi di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Meski demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi memastikan situasi kesehatan daerah masih terkendali dan relatif aman, tanpa temuan lonjakan kasus serupa, berdasarkan hasil pemantauan rutin yang terus diperbarui. 

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan UKM dan UKP Dinkes Ngawi, drg. Retno Dewi Sulistiorini, MM, menyampaikan bahwa hingga kini belum ditemukan indikasi penularan superflu di wilayah Ngawi. 

Menurutnya, kewaspadaan tetap dijaga mengingat momentum libur Natal dan Tahun Baru yang meningkatkan mobilitas masyarakat, baik antarwilayah maupun aktivitas kerumunan dalam skala cukup besar. 

“Sebagai langkah antisipatif, Dinkes Ngawi mengaktifkan pemantauan intensif melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau SKDR, yang berfungsi mendeteksi gejala penyakit menular secara real time,” terang dia, Rabu (07/01/2026). 

Ditegaskannya, bahwa pemantauan tersebut difokuskan pada Influenza-like Illness atau ILI, yakni kumpulan gejala yang menyerupai influenza, guna memastikan setiap potensi kasus dapat teridentifikasi sejak dini. 

Seluruh fasilitas layanan kesehatan dilibatkan, mulai dari 24 puskesmas hingga lima rumah sakit yang tersebar di wilayah Ngawi, untuk melakukan pencatatan kasus dengan diagnosis mendekati flu biasa. 

“Semua data dihimpun dan dilaporkan secara berjenjang agar kondisi kesehatan masyarakat tetap terpantau, sekaligus menjadi dasar respons cepat bila diperlukan,” terang drg. Retno. 

Ia menambahkan, hingga saat ini kasus yang tercatat masih didominasi keluhan flu musiman, tanpa indikasi peningkatan ke arah influenza berat atau komplikasi serius. 

Meski kondisi relatif aman, Dinkes Ngawi tetap mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan umum dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari. 

Langkah sederhana seperti rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk, serta membatasi mobilitas yang tidak mendesak dinilai efektif menekan risiko penularan penyakit pernapasan. 

Apabila harus beraktivitas di tempat ramai, masyarakat disarankan menggunakan masker sebagai bentuk perlindungan tambahan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. 

Dapat disampaikan, superflu sendiri merupakan jenis influenza A dengan tingkat penularan lebih cepat dibanding flu musiman, berpotensi menimbulkan gejala lebih berat, sehingga kewaspadaan dini menjadi kunci pencegahan di masyarakat. 

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News 

Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Selasa, 06 Januari 2026

Curah Hujan Tinggi, Dinas Perikanan dan Peternakan Pantau Kesehatan Ternak Ngawi

Curah Hujan Tinggi, Dinas Perikanan dan Peternakan Pantau Kesehatan Ternak Ngawi

SN-Media™ Ngawi - Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi sejak akhir 2025 hingga memasuki awal 2026 mulai berdampak nyata pada sektor peternakan di Kabupaten Ngawi, terutama terhadap kesehatan dan keberlangsungan populasi ternak.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Kabupaten Ngawi, Eko Yudo Nurcahyo, menyampaikan bahwa kondisi cuaca lembap berkepanjangan berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan pada sapi dan kambing milik peternak. 

Salah satu penyakit yang kerap muncul pada musim hujan adalah bloat atau perut kembung, yang disebabkan perubahan pakan serta lingkungan kandang yang basah dan kurang higienis. 

“Apabila bloat tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian ternak, sehingga peternak diminta lebih waspada dalam pengelolaan pakan dan kebersihan kandang,” jelas Yudo, Selasa (03/01/2026). 

Selain gangguan pencernaan, Yudo juga menyinggung potensi munculnya Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK, meski hingga kini belum ada laporan resmi yang tercatat secara administrasi. 

“Namun berdasarkan hasil pemantauan petugas di lapangan, indikasi PMK memang sempat ditemukan, terutama di wilayah barat Kabupaten Ngawi yang memiliki konsentrasi ternak relatif tinggi,” jelasnya. 

Setiap temuan, lanjut Yudo, langsung ditindaklanjuti melalui pengobatan, penyemprotan disinfektan, serta pendampingan kepada peternak agar penyebaran penyakit dapat ditekan. 

Pun, Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi juga terus meningkatkan pengawasan lapangan guna memastikan kondisi kesehatan ternak tetap terpantau selama musim hujan berlangsung. 

Di sisi lain, Yudo mengungkapkan bahwa populasi ternak di Kabupaten Ngawi mengalami penurunan sekitar 20 persen berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik. Dari populasi sebelumnya yang mencapai sekitar 72 ribu ekor, jumlah ternak tercatat menyusut, yang diduga kuat merupakan dampak lanjutan wabah PMK beberapa tahun lalu. 

“Meski demikian, kondisi saat ini mulai menunjukkan perbaikan, seiring meningkatnya kesadaran peternak terhadap kesehatan hewan dan pendampingan yang terus dilakukan pemerintah daerah,” pungkasnya.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News 

Pewarta: dAm
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM


Kamis, 11 Desember 2025

Paramitra Gelar Pelatihan Wartawan di Madiun Perkuat Liputan Kesehatan Mata Inklusif

Paramitra Gelar Pelatihan Wartawan di Madiun Perkuat Liputan Kesehatan Mata Inklusif

SN-Media™ Madiun – Yayasan Paramitra bersama tim I-SEE Care kembali menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi wartawan dari kawasan barat Mataraman, sebagai upaya memperkuat literasi publik mengenai hak-hak kesehatan mata yang inklusif dan berkelanjutan, Rabu (10/12/2025).

Pelatihan ini menjadi penyelenggaraan kedua setelah sebelumnya dilakukan pada Desember tahun lalu, dengan fokus memperbarui pemahaman jurnalis tentang strategi pemberitaan yang lebih sensitif, tepat sasaran, dan mengedepankan perspektif inklusi dalam isu kesehatan masyarakat. 

Sebanyak sepuluh wartawan dari Ngawi, Madiun, dan Magetan mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk memperluas sudut pandang peliputan, khususnya terkait kendala akses layanan kesehatan mata yang masih dialami kelompok difabel di berbagai tingkat layanan publik. 

Project Manager Program I-SEE Care, Muhammad Marsudi, mengungkapkan bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar, mulai dari keterbatasan informasi hingga pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung pemenuhan hak penyandang gangguan penglihatan secara menyeluruh. 

“Wartawan memiliki peran penting dalam membangun jembatan informasi yang mampu memperkuat edukasi sekaligus mendorong lahirnya advokasi publik, sehingga kesetaraan hak difabel dapat semakin dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari,” ujar Marsudi. 

Dalam diskusi kelompok, peserta mengemukakan beberapa hambatan, seperti minimnya data pendukung, akses informasi yang belum terbuka, dan dukungan kelembagaan yang masih terbatas, ditambah keberadaan stigma sosial yang terus melekat pada penyandang disabilitas.

Ika, wartawan asal Magetan, menyampaikan bahwa sebagian masyarakat masih memandang difabel melalui kacamata keliru, mulai dari anggapan bermuatan mistis hingga keyakinan bahwa mereka semata-mata patut dikasihani, bukan diberdayakan secara mandiri dan setara. 

“Literasi publik harus diperkuat agar pemahaman semacam itu bisa terkikis perlahan, sehingga masyarakat dapat melihat difabel sebagai individu dengan hak yang sama, termasuk dalam memperoleh layanan kesehatan mata yang layak dan terjangkau,” jelasnya. 

Pun Miftah dari Ngawi menegaskan bahwa gangguan kesehatan mata sering dianggap sepele, padahal banyak dialami masyarakat, sehingga wartawan dituntut mampu mengangkat isu tersebut melalui sudut pandang yang lebih kuat dan relevan bagi pembaca luas. 

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: dAm
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Minggu, 07 Desember 2025

Tiga Puluh Lansia Mendiro Ikuti Wisuda sebagai Penguatan Hidup Sehat dan Bermakna

Tiga Puluh Lansia Mendiro Ikuti Wisuda sebagai Penguatan Hidup Sehat dan Bermakna

SN-Media™ Ngawi – Wisuda Sekolah Lansia Tangguh BKL Bina Sejahtera di Desa Mendiro, Kecamatan Ngrambe, kembali menarik perhatian publik sebagai upaya menghadirkan ruang pembelajaran bermakna bagi warga lanjut usia yang ingin tetap aktif serta mandiri dalam keseharian.

Kegiatan yang berlangsung Rabu, 3 Desember 2025 tersebut diikuti tiga puluh peserta lansia yang selama beberapa bulan mengikuti rangkaian materi kesehatan, penguatan mental, serta pembiasaan pola hidup produktif sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. 

Pemerintah Desa Mendiro memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program ini sebagai bagian dari komitmen memperluas ruang pemberdayaan bagi warga lanjut usia, terutama lewat kegiatan berbasis komunitas yang mendekatkan pemahaman pada kebutuhan riil masyarakat setempat. 

Kepala DP3AKB Kabupaten Ngawi, dr. Nugrahaningrum, menegaskan bahwa sekolah lansia dirancang bukan sekadar tempat belajar, melainkan wadah membangun keberdayaan agar para peserta tetap percaya diri dalam menjalani masa lanjut usia. 

“Klompok lansia tidak boleh dipandang sebagai pihak pasif, sehingga program ini menghadirkan pendekatan yang menempatkan mereka sebagai subjek pembangunan dengan kapasitas yang terus dapat dioptimalkan melalui pendampingan berkelanjutan,” kata dr. Ning 

Dia menambahkan bahwa kerja sama pemerintah desa dan DP3AKB menjadi contoh sinergi yang dapat memperkuat layanan sosial, terutama dalam memastikan lansia memperoleh ruang yang aman, ramah, dan mendukung keberlanjutan aktivitas positif di lingkungan sekitar. 

Semangat “Hidup Hanya Sekali, Jangan Sampai Menua Tanpa Arti” kembali digaungkan sebagai pesan moral agar peserta terus menjaga optimisme, menemukan minat baru, serta mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang lebih teratur dan berkesinambungan. 

Perwakilan Pemdes Mendiro menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mempertahankan kegiatan semacam ini dengan memperluas kolaborasi lintas bidang, termasuk kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan gerakan sosial yang diarahkan pada peningkatan kualitas hidup warga lanjut usia. 

Program yang dikembangkan diharapkan mampu memperkuat interaksi antargenerasi sehingga hubungan sosial tetap terjaga, sementara lansia memperoleh ruang pembelajaran yang mendorong munculnya rasa dihargai dan tetap berguna dalam kehidupan sehari-hari. 

Wisuda kali ini menjadi gambaran bahwa perhatian kepada warga lanjut usia tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret membentuk kemandirian melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta yang terlibat. 

DP3AKB berharap keberlanjutan program lansia tangguh mampu memperluas manfaat ke desa lainnya di wilayah Ngawi, sehingga lebih banyak warga lanjut usia memperoleh kesempatan belajar dan tetap berdaya dalam berbagai aktivitas keseharian.  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Red
Editor : Asy
Foto/iLst : Dok
*** : ----
Copyright : SNM


Jumat, 05 Desember 2025

Layanan Inklusif Diperluas, Rumah Terapi Ceria Adikku Resmi Beroperasi di Ngawi

Layanan Inklusif Diperluas, Rumah Terapi Ceria Adikku Resmi Beroperasi di Ngawi

SN-Media™ Ngawi – Komitmen pemerintah daerah dalam memperluas layanan sosial kembali ditegaskan melalui peresmian Rumah Terapi Ceria Adikku, bertempat di halaman fasilitas baru Dinas Sosial Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini menjadi langkah nyata memperkuat akses layanan bagi anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu, Kamis (04/12/2025).

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngawi, Bonadi, menjelaskan bahwa pengoperasian rumah terapi tersebut berlandaskan amanat UU Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial serta UU Nomor 8 Tahun 2016 mengenai Disabilitas. Tujuannya menyasar pemenuhan hak dasar bagi anak usia 1–18 tahun dari kelompok desil 1–5, dimana seluruh layanan diberikan secara cuma-cuma hanya dengan melampirkan fotokopi KK dan KTP. 

Bonadi menambahkan, keberadaan fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat jangkauan pelayanan publik yang mudah dijangkau, layak diakses, serta menjamin hak kesehatan bagi semua kalangan. 

“Sinergi Pemkab Ngawi bersama Sentra Terpadu Kartini Temanggung membuat layanan ini dapat berjalan optimal. Rumah terapi tersebut dilengkapi tiga ruang layanan, mencakup fisioterapi, terapi okupasi, serta terapi wicara yang menjadi kebutuhan dasar bagi penyandang disabilitas anak,” terang Bonadi. 

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Sentra Kartini Temanggung yang telah menyalurkan bantuan peralatan dari Kementerian Sosial. 

“Bantuan tambahan berupa kursi roda, paket sembako, dan sejumlah dukungan lainnya turut diberikan untuk memperkuat pemanfaatan fasilitas baru tersebut. Pemkab Ngawi sendiri menyiapkan bangunan serta sarana pendukung sebagai bentuk komitmen layanan berkelanjutan,” ujar Wabup Antok. 

Dia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memperluas layanan inklusif melalui keberadaan lima SLB yang tersebar di beberapa wilayah, menyediakan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus dengan pendekatan pembinaan yang sesuai karakter masing-masing. 

Selain itu, fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit daerah terus memastikan penyandang disabilitas mendapatkan pelayanan yang ramah, mudah diterima, dan tidak diskriminatif. 

“Dengan diresmikannya Rumah Terapi Ceria Adikku, Pemkab Ngawi berharap layanan bagi penyandang disabilitas dapat semakin merata, menjangkau lebih banyak masyarakat, serta mendorong tumbuhnya lingkungan sosial yang lebih peduli dan inklusif,” pungkasnya,  

Simak Berita Menarik Lainnya di: Chanel Whatsapp Juga di: Google News  

Pewarta: dAm
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM